Senin, 27 April 2026

Alumni Universitas Binawan Jakarta berbagi Pengalaman Kerja di Luar Negeri

kebijakan berkarir atau peluang berkarya di luar negeri, itu akan digiatkan kembali.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Agus Himawan
istimewa
(tangkapan layar) Nur Ali, alumni Universitas Binawan Jakarta yang sekarang perawat bersertifikat di Sydney, Australia. (Dok Universitas Binawan Jakarta). 

WARTAKOTALIVE.COM - Universitas Binawan Jakarta menggelar forum berbagi pengalaman (sharing experiences) secara virtual bersama para civitas setempat pada Jumat (24/4/2020) petang. Saat itu perguruan tinggi yang fokus pada dunia kesehatan tersebut mengundang dua alumni kampus yang kini berkiprah di Kota Sydney, Australia sebagai narasumber.

Mereka adalah Irwan Julaga Anang sebagai General Manager Aged Care Facility Sydney dan Nur Ali sebagai perawat bersertifikat di Sydney. Oleh Universitas Binawan, tayangan itu disiarkan melalui akun YouTube Universitas Binawan.

Dalam forum itu, Irwan membeberkan sudah bekerja sebagai perawat di Sydney sudah 14 tahun. Sekitar 1,5 tahun kuliah di Universitas Binawan, dia mendapat tawaran untuk menyelesaikan pendidikan sampai semester terakhir di Australia.

Gareth Bale Ikut Tantangan London Marathon

Ini Syarat dan Ketentuan Pelanggan PLN 900 VA & 1.300 VA dapat Diskon

Pendemi Covid-19 Tunda Pemberangkatan Rumah Sakit Apung

“Waktu itu Universitas Binawan ada program kerja sama dengan University of Technology Sydney (UTS). Jadi kami hanya menyelesaikan kewajiban kami beberapa semester di Australia,” kata Iwan lulusan Universitas Binawan tahun 2004 ini berdasarkan keterangan yang diterima pada Sabtu (25/4/2020).

Dalam kesempatan itu, Iwan mengaku beruntung bisa kuliah di Binawan. Dia menilai, ekosistem pembelajaran di kampus sangat baik, bahkan materi yang disampaikan juga bagus. “Para dosennya juga hebat-hebat banget dalam mendidik,” ujar Iwan

Sementara itu Nur Ali alumni Universitas Binawan 2006 lalu menambahkan, sebelumnya dia adalah lulusan Akademi Keperawatan (Akper) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Ponorogo pada 2002 lalu. Setelah menyelesaikan pendidikannya, dia dihadapkan dua pilihan yakni bekerja di luar negeri atau berkarir di dalam negeri sebagai perawat.

Ternyata ini Isi dari Nasi Anjing yang Dibagikan di Warakas, Tanjung Priok

Sebelum Diisukan Wafat, Sempat Kim Jong Un Eksekusi Mati Mantan Pacar Gara-Gara Video Panas Tersebar

Bupati Bogor Ade Yasin Serukan Agar Ramadan Dapat Dijadikan Momentum Lawan Corona Secara Total!

Namun dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Binawan. Tak disangka, di universitas ini terdapat program untuk menempatkan tenaga kerja dari Indonesia khsususnya perawat ke luar negeri di negara Kuwait, Timur Tengah.

“Waktu itu belum ada program ke Australia, dan saya diprogramkan untuk ke Kuwait tapi saat itu ada masalah administrasi,” ujar Ali.

“Tapi tujuan ke Kuwait sudah pupus dan juga saya melamar ke berbagai ke rumah sakit di Indonesia, namun tidak ada jawaban sama sekali,” tambahnya.

Dia bercerita sulitnya berkarir sebagai perawat saat itu karena jebolan Akper dari perguruan tinggi negeri maupun swasta. Karenanya, daya saing untuk memperoleh pekerjaan sebagai perawat sangat tinggi.

“Dari situ saya melihat fenomena ini sudah tidak sehat. Jadi ada fenomena di mana upah atau beban dan juga lowongan pekerjaan tidak sesuai dengan jumlah lulusan. Saat itu juga saya kembali ke Binawan,” jelasnya.

Tidak ada Penerbangan, Pelatih Persita U-20 Tak Bisa Pulang Kampung

Diberlakukan di Perumahan Anyelir Cilodong Depok, Hindari Virus Corona Belanja Sayuran Harus Antre!

Gandeng Kepolisian-TNI, Pemkot Bekasi Akan Ambil Tindakan Tegas buat Warga yang Meremehkan PSBB!

Di tahun 2003, dia ke Binawan untuk melanjutkan program sarjana satu (S-1) di programkan ke Australia. “Dari situ saya melihat hanya Binawan yang bisa menangkap fenomena, bahwa kita ada masalah di jumlah lulusan Akper maupun universitas dengan lowongan pekerjaan,” imbuhnya.

Sementara itu Rektor Universitas Binawan Sofyan Hawadi mengatakan, pihaknya memiliki perhatian khusus terhadap pendidikan yang berdaya saing global. Hal ini sesuai dengan visi universitas yakni, menjadi pusat pendidikan tinggi unggulan yang berdaya saing global dan terdepan di Indonesia pada tahun 2043.

“Daya saing ini dibuktikan dengan portofolio, kinerja atau prestasi daripada mahasiwa. Mudah-mudahan itu bisa diikuti oleh para mahasiswa,” ungkapnya.

Menurutnya, kebijakan berkarir atau peluang berkarya di luar negeri, itu akan digiatkan kembali. Karena itu, kesiapan yang dilakukan adalah menggalakkan program magang luar negeri.

“Magang di luar negeri yang sekarang dijajaki oleh Direktorat Hubungan Luar Negeri, itu untuk bagaimana bisa magang di Jepang. Kemarin (waktu lalu) beberapa orang ada yang magang di Australia,” katanya.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved