Kesehatan

Berantas Stunting Bukan Hanya Urusan Pemerintah

Upaya pencegahan dan penurunan angka stunting di Indonesia bukan hanya menjadi urusan pemerintah semata.

Berantas Stunting Bukan Hanya Urusan Pemerintah
The Telegraph
Ilustrasi anak-anak mengalami stunting atau tubuh pendek. 

Upaya pencegahan dan penurunan angka stunting di Indonesia bukan hanya menjadi urusan pemerintah semata. Seluruh elemen bangsa harus terlibat dan berperan aktif dalam memerangi stunting di Indonesia.

Hal tersebut mengemuka dalam acara Temu Pakar yang diselenggarakan Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) bekerja sama dengan Ikatan Konsultan Kesehatan Indonesia (IKKESINDO), Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Rabu (4/3/2020). Temu Pakar yang diselenggarakan di Raffles Hotel Jakarta ini mengangkat tema "Strategi Penurunan Stunting dari Hulu - Hilir Secara Komprehensif".

Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut antara lain Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Kementerian Bappenas Dr. Ir. Subandi, MSc, Sekretaris Eksekutif (Ad Interim) Tim Nasional Percepatan Penanggulanga Kemiskinan (TNP2K) Bambang Widianto, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI Dr. Siswanto, MHP, DTM. Prof. Dr. Ascobat Gani MPH, Dr.PH dan Prof. dr. Endang L. Achadi, PhD dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Stunting adalah masalah kurang gizi dan nutrisi kronis yang ditandai tinggi badan anak lebih pendek dari standar anak seusianya. Beberapa diantaranya mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal seperti lambat berbicara atau berjalan, hingga sering mengalami sakit.

Ketua Umum IndoHCF Dr. dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS, mengatakan, kasus stunting atau kegagalan tumbuh kembang anak akibat malnutrisi kronis di Indonesia menjadi pekerjaan besar pemerintahan Jokowi - Ma'ruf Amin.

Terlebih nominal target yang dituju Presiden Jokowi terbilang sangat ambisius yakni 14 persen pada tahun 2024 mendatang.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan, prevalensi balita stunting di tahun 2018 mencapai 30,8 persen di mana artinya satu dari tiga balita mengalami stunting.

Indonesia sendiri, kata dia, merupakan negara dengan beban anak stunting tertinggi ke-2 di Kawasan Asia Tenggara dan ke-5 di dunia.

Supriyantoro menerangkan, stunting tidak hanya dialami keluarga miskin, namun juga mereka yang berstatus keluarga mampu atau berada.

Stunting, kata dia, tidak hanya menganggu pertumbuhan fisik, namun juga terganggunya perkembangan otak.

Halaman
123
Penulis: Dodi Hasanuddin
Editor: Dodi Hasanuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved