Partai Politik
Abdillah Toha Meminta agar Amien Rais Tidak Mencampuri Lagi Kongres PAN yang akan Diselenggarakan
Abdillah Toha meminta agar Amien Rais tidak kembali ikut campur dengan urusan sistem demokrasi partai.
Sebagai salah seorang yang ikut mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN), Abdillah Toha meminta agar Amien Rais tidak kembali ikut campur dengan urusan sistem demokrasi partai.
Hal tersebut disampaikan oleh Toha saat menanggapi sikap Amien yang cenderung ikut campur terlalu dalam di PAN terkait dengan pelaksanaan kongres, bulan depan.
"Ya sudahlah, yang lalu-lalu kan selalu ikut campur, itu kan urusan sistem demokrasi di partai."
"Sudah waktunya melepaskan ini ke yang muda-muda."
"Sudahlah, Pak Amien jangan ikut campur lagi," kata Abdillah Toha dalam keterangan tertulis, yang disampaikan di Jakarta, Sabtu, (18/1/2020).
"Jangan ada tekanan-tekanan dari Pak Amien, Pak Amien harus membiarkan, partai jangan tergantung ke Pak Amien," kata dia.
Abdillah mengungkapkan bahwa banyak pihak PAN yang merasa keberatan dengan yang dilakukan Amien Rais, selama ini.
• Banjir Air Mata Tumpah Saat Siswi Jatuh dari Lantai Empat Sekolah Dimakamkan dari Keluarga dan Teman
Meski demikian, Abdillah Toha tidak menjelaskan apa saja yang dilakukan tersebut.
"Ya tafsirkan sendiri ikut campurnya bagaimana?"
"Banyak yang keberatan."
"Bikin ruwet," kata Abdillah.
• Truk Kelebihan Muatan Nyelonong Masuk SPBU KM 97 Rem Blong Terbanting Menimpa Tujuh Mobil Parkir
Rakernas PAN direncanakan akan berlangsung pada tanggal 12/2/2020 di Sulawesi Tenggara.
Sejumlah nama kandidat Ketua Umum baru periode 2020-2025 adalah Zulkifli Hasan, Mulfachri Harahap, dan Asman Abnur.
Salah satu calon yakni Mulfachri Hararap akan berpasangan dan maju dengan putra Amien Rais yakni Hanafi Rais sebagai Sekjen.
• Dua Sejoli Panik Dipergoki Mesum di Mobil di Parkir Mal Nekat Menabrak Satpam dan Palang Parkir
Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Al-azhar Ujang Komarudin menilai, majunya Hanafi berpasangan dengan Mulfachri merupakan upaya Amien untuk membangun dinasti politik.
"Kasus dinasti politik di Indonesia masih banyak diwarnai dinasti politik yang buruk."
"Karena, banyak pejabat yang dihasilkan dari dinasti politik itu cenderung membangun oligarki,"kata Ujang.
Ujang menyatakan, dinasti politik biasanya juga akan menyebabkan kinerja partai melempem.
"Jika yang diangkat dari kalangan keluarganya itu tidak punya kemampuan, lalu, kinerjanya melempem," kata Ujang.
• Kadis Bina Marga Ungkap Dampak Negosiasi Lahan Alot Pembangunan Lift JPO Pasar Minggu Masih Berjalan