Kolom Trias Kuncahyono

Bintang Bethlehem

Menurut cerita Bintang Bethlehem itu dilihat oleh tiga orang bijak, tiga raja, atau ada yang mengisahkan sebagai tiga astronom dari timur yang datang

Editor: AchmadSubechi
AP Photo/Majdi Mohammed
Orang Kristen Palestina bersuka cita di sekitar pohon Natal di Manger Square, di luar Gereja Kelahiran Yesus di Kota Betlehem, Tepi Barat, Sabtu (1/12/2018). 

Bintang Bethlehem adalah bagian yang tak terpisahkan dari Natal. Bila Natal tiba, cerita Bintang Bethlehem selalu muncul.

Selama ratusan tahun, para cerdik pandai berusaha mencari jawaban akan misteri Bintang Bethlehem itu.

Apakah kemunculan bintang itu adalah peristiwa astronomi biasa (meskipun dengan pengaturan Ilahi)?

Adakah  peristiwa di luar angkasa yang dapat menjelaskan apa yang dilihat oleh orang-orang bijak?

Menurut cerita Bintang Bethlehem itu dilihat oleh tiga orang bijak, tiga raja, atau ada yang mengisahkan sebagai tiga astronom dari timur yang datang ke Jerusalem.

Michael R Molnar dalam bukunya berjudul The Star of Bethlehem: The Legacy of the Magic berpendapat orang-orang bijak itu percaya bahwa seorang raja baru akan dilahirkan pada saat bulan berlalu di depan Jupiter (Trias Kuncahyono, Pilgrim, 2017).

Astrolog zaman Romawi-Kristen, Julius Firmicus, yang dikutip Molnar berpendapat, orang yang dilahirkan ketika bulan berlalu di depan Jupiter adalah “orang yang memiliki sifat ilahi dan abadi”.

Oleh karena itu, Molnar pun sampai pada kesimpulan bahwa Bintang Bethlehem yang diikuti tiga orang bijak itu adalah Jupiter.

Akan tetapi, pakar lain, misalnya Mark Kidger, periset dari Instituto de Astrofisica de Canarfas, di Spanyol, dalam bukunya The Star of Bethlehem, seperti dikutip AFP (17 Desember 1999), menyatakan bahwa yang dilihat oleh tiga orang bijak adalah sebuah konjungsi (lintasan bintang pada gugusan yang sama) planet.

Ketika dua planet berlintasan pada jarak sangat dekat di langit, sering menghasilkan sebuah konfigurasi yang mencolok.

Beberapa ahli sastra keagamaan Kristen memperkirakan bahwa kisah tentang “bintang istimewa” itu memiliki kaitan dengan konjungsi.

Peristiwa konjungsi bintang Yupiter dan Venus terjadi pada tahun 4-3 Sebelum Masehi (SM). Menurut sejarah ilmu perbintangan, masa-masa itu memang “sangat kaya” dengan peristiwa perbintangan. 

Pada tahun 12 SM, misalnya, komet Halley muncul. Lalu tahun 7 SM, ini yang diyakini Kidger sebagai Bintang Bethlehem, tercatat tiga kali konjungsi Yupiter dan Saturnus. Sedangkan pada tahun 5 SM ada sebuah nova (= ledakan bintang).

Sir Patrick Moore, seorang astronom Inggris, dalam bukunya The Star of Bethlehem, yang dikutip telegraph.co.uk (30 Agustus 2001), berpendapat bintang yang membimbing tiga orang bijak itu adalah dua meteor yang bersinar begitu cemerlang.

Meteor atau bintang beralih, yang muncul di timur dan melintasi langit menuju arah barat dan meninggalkan bekas yang dapat dilihat berjam-jam.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved