Belum Maksimal Pemanfataan Batu Bara dan Residunya dari Bahan Konstruksi, Bendungan, Hingga Jalan

Belum Maksimal Pemanfataan Batu Bara dan Residunya dari Bahan Konstruksi, Bendungan, Hingga Jalan

Belum Maksimal Pemanfataan Batu Bara dan Residunya dari Bahan Konstruksi, Bendungan, Hingga Jalan
banjarmasinpost.co.id
Ilustrasi: kapal tongkang mengangkut batu bara melintas di Sungai Barito 

China                      4.361.127.000
Amerika Serikat        924.442.000
India                            886.052.000
Jerman                        270.404.000
Rusia                           229.820.000
Jepang                         222.304.000
Afrika Selatan            190.085.000
Polandia                      160.817.000
Korea Selatan             142.464.000
Australia                      132.565.000

Jadi jelas, Indonesia tertinggal sangat jauh dalam urusan pemanfaatan batu bara di dalam negeri.

Pun demikian, pemerintah berencana untuk terus mengurangi konsumsi batu bara sebagai pembangkit energy di dalam negeri.

Dalam road map Kebijakan Energi Nasional (KEN) dirumuskan bahwa pemanfaatan batu bara dalam bauran energi nasional ditargetkan hanya 30 persen pada 2025.

Jumlah itu pun ditargetkan untuk diturunkan menjadi menjadi hanya 25 persen pada 2050.

Selain konsumsi batu bara yang tertinggal jauh dibandingkan negara lainnya di dunia, urusan pemanfaatan limbah batu bara pun setali tiga uang.

Di negara maju seperti Amerika Serikat, India, China, dan Jepang mereka menyerap fly ash, bottom ash, dan gipsum sebagai bahan pembuatan jalan, jembatan, paving blok, semen, dan sebagainya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia Hendra Sinadia pun mengungkapkan bahwa di negara lain limbah batu bara tidak dianggap sebagai limbah B3 atau bahan berbahaya dan beracun.

“Limbah batu bara, abu batu bara itu bisa digunakan untuk bahan konstruksi di berbagai negara. Cuma di sini saja dianggapnya sebagai B3. Ini kan jadi masalah. Padahal di negara-negara lain seperti di Jepang. Limbah batu bara itu dijadikan bahan konstruksi, bahan bendungan, jalan. Jumlahnya besar, bisa dimanfaatkan sebenarnya,” urai Hendra dalam keterangan tertulis pada Selasa (3/12/2019).

Peneliti Alpha Research Database, Ferdy Hasiman juga mengungkapkan hal menarik terkait pembangkit listrik tenaga uap batu bara (PLTU).

Halaman
1234
Penulis: Mirmo Saptono
Editor: Mirmo Saptono
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved