Breaking News:

Koruptor Dapat Grasi, ICW Bandingkan dengan Terpidana Kasus Narkotika yang Meninggal di Penjara

Menurut Lola, pertimbangan kemanusiaan dalam grasi yang diberikan Jokowi inkonsisten.

TRIBUNNEWS/FRANSISKUS ADHIYUDA
Peneliti ICW Lola Ester, ditemui di Kantor DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Jumat (29/11/2019). 

LOLA Ester, peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), menanggapi pemberian grasi oleh Presiden Jokowi terhadap terpidana kasus korupsi Annas Maamun, atas dasar kemanusian.

Menurut Lola, pemberian grasi kepada mantan Gubernur Riau itu sebagai pertimbangan yang paradoks.

"Kalau bicara soal kemanusian ya jangan nanggung."

Peserta Reuni 212 Panggil Anies Baswedan Gubernur Indonesia, Minta Tetap Pimpin DKI Sebelum 2024

"Ini buat saya kok jadi paradoks kalau dasarnya adalah kemanusian," kata Lola Ester, ditemui di Kantor DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Jumat (29/11/2019).

Lola lantas membandingkan dengan terpidana mati kasus narkotika, Zulfiqar Ali.

Padahal, saat itu, Zulfiqar mengalami sakit kanker hati ganas.

Anies Baswedan Koreksi Jumlah Peserta Reuni 212, dari Ratusan Ribu Jadi Jutaan

Sampai akhirnya pada 31 Mei 2018, warga Pakistan tersebut meninggal dunia.

Menurut Lola, pertimbangan kemanusiaan dalam grasi yang diberikan Jokowi inkonsisten.

Seharusnya, pertimbangan kemanusiaan juga berlaku bagi Zulfiqar.

Ketua GNPF Ulama Bilang Rizieq Shihab Bakal Pulang Sebelum Reuni 212 2020, Sebut Ada Tangan Jahat

"Itu jadi paradoks, dulu kok enggak dikasih? Padahal itu orang ibaratnya sakaratul mautnya di ruang penjara, sekarang Annas diberikan," paparnya.

Halaman
1234
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved