Rabu, 22 April 2026

Sebelum Menerapkan B30, Gaikindo: Standar Kadar air Harus Diperhatikan

Ketua Umum Gaikindo, Yohanes Nangoi, mengatakan, dukungannya terhadap penerapan bahan bakar biodisel campuran minyak kelapa sawit 30 persen atau B30.

KompasOtomotif/Stanly
Ilustrasi mesin diesel. 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohanes Nangoi, mengatakan, dukungannya terhadap penerapan bahan bakar biodisel campuran minyak kelapa sawit 30 persen atau B30.

Namun, ia berharap agar pihak produsen dan distribusi B30 memperhatikan standar kualitas yang sesuai dengan kendaraan di Indonesia.

Menurut Yohanes, saat ini baru Indonesia yang menerapkan bauran biodisel hingga 20 persen (B20), sedangkan negara-negara lain paling banter hanya mencapai tujuh persen.

Bisnis Operator Telekomunikasi Ikut Terangkat Berkat Tren E-Sport

“Tahun depan bahkan mau dinaikkan jadi 30 persen, sehingga Indonesia patut berbangga,” kata Yohanes.

Kendati demikian, menyambut program B30 yang semakin dekat, Gaikindo meminta supaya produsen biodisel seperti Pertamina lebih memperhatikan lagi standar kadar air untuk bahan bakar tersebut.

Yohanes mengatakan, kadar air untuk B30 idealnya maksimal di level 200 mg/kg.

Kadar air yang terlalu tinggi dapat berdampak negatif bagi performa mesin kendaraan, khususnya mobil kecil bertenaga diesel.

Alasan OJK Mengkaji Bank Kecil Agar Konsolidasi

Masalah yang timbul dari tingginya kadar air antara lain kemunculan guratan-guratan pada injection sampai korosi pada mesin kendaraan.

Yohanes mengatakan, perubahan standar kadar air pada bahan bakar B30 juga dapat memaksa produsen untuk merombak mesin kendaraannya.

Hal ini dapat mengakibatkan meningkatnya biaya produksi yang diemban tiap produsen.

Padahal, ia menyebut, di tiap tahun produksi mobil di Indonesia dapat mencapai 1,3 juta unit.

Sebanyak 1,1 juta unit di antaranya dipasarkan di dalam negeri, sedangkan sisanya diekspor ke luar negeri.

Ditambah lagi, Gaikindo mendapat permintaan dari pemerintah agar dalam tiga tahun hingga empat tahun ke depan jumlah mobil yang diekspor dapat mencapai 1 juta unit.

BEI Catat 61.130 Investor Retail Saham Syariah Per September 2019

“Ada banyak mobil yang diproduksi di Indonesia. Kalau dipaksa diubah mesinnya, industri tidak bisa jalan,” kata Yohanes.

Terlepas dari itu, Yohanes tetap mendukung penerapan B30 dalam waktu dekat.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved