Kasus Penganiayaan Sadis yang Dilakukan 5 Alumni Terhadap 9 Adik Kelasnya Mulai Diusut Polisi
“Kita ingin tradisi penataran senioritas itu enggak ada lagi. Pelaporan ini juga sudah kita bicarakan matang-matang.
Penulis: Zaki Ari Setiawan | Editor: Dedy
Pihak kepolisian Polsek Ciputat sudah mulai menyelidiki kasus penganiayaan sadis yang dilakukan lima orang senior terhadap sembilan juniornya yang masih duduk di bangku MTS Madrasah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat.
Kapolsek Ciputat, Kompol Endy Mahandika, mengatakan, berdasarkan laporan itu terdapat lima nama terlapor yang diduga terlibat perundungan.
“Ada lima terlapor, mereka anak SMA, alumni sekolahnya,” kata Endy kepada Wartakotalive.com, Senin (4/11/2019).
Melanjutkan laporan para orang tua korban, pihak Polsek Ciputat sudah mulai melakukan pemeriksaan untuk meminta keterangan lebih lanjut.
“Hari ini tadi sudah kita panggil orang tua pelaku satu dan orang tua korban dua orang,” tuturnya.
Motif penganiayaan itu dipicu karena para senior kecewa dan kesal sebab sembilan juniornya ingin keluar dari geng Vembajak.
Sembilan korban tersebut berinisial MD, AD, KSN, RJH, JS, MSY, N, FN dan MFM.
Sembilan anak ini dianiaya lima orang seniornya yang sudah alumni dan tersebar di sejumlah SMA di Tangsel dan Jakarta Selatan. Kelima senior itu adalah H, R, FA, DAD dan K.
Kejadian ini terbongkar pada Senin 14 Oktober dan Selasa 15 Oktober 2019 lalu setelah kesembilan anak tersebut bercerita soal kondisi wajah dan badan mereka yang penuh luka lebam.
Para orang tua korban pun bertemu. Mereka juga sempat rapat dengan orang tua para pelaku dan pihak sekolah. Hingga akhirnya diputuskan untuk melanjutkan kasus tersebt ke pihak kepolisian pada Sabtu (2/11/2019).
Iqbal, salah satu orang tua korban, mengatakan, pangkal masalahnya adalah karena kesembilan junior itu ingin keluar dari kelompok geng Vembajak.
Di geng itu, para junior harus mengumpulkan uang Rp 80 ribu per minggu. Uang itu digunakan untuk membeli miras sampai peralatan tawuran dari mulai gear motor sampai celurit.
Para senior yang mengetahui para juniornya ingin keluar dan mulai tidak nongkrong bareng lagi itu kesal.
“Sebenarnya anak saya dan yang lainnya ingin keluar. Mereka enggak nongkrong lagi. Eh taunya malah dijemput dan dikumpulin sampai dipukulin gitu,” ujar Iqbal di Ciputat, seperti dilansir TribunJakarta.com.
Iqbal menjelaskan, penganiayaan terhadap 9 junior itu dilakukan di dua tempat yakni di rumah salah satu pelaku dan di kantin sekolah.