Kasus Penganiayaan Sadis yang Dilakukan 5 Alumni Terhadap 9 Adik Kelasnya Mulai Diusut Polisi

“Kita ingin tradisi penataran senioritas itu enggak ada lagi. Pelaporan ini juga sudah kita bicarakan matang-matang.

Kompas.com/ERICSSEN
Ilustrasi penganiayaan. 

Iqbal, salah satu orang tua korban, mengatakan, pangkal masalahnya adalah karena kesembilan junior itu ingin keluar dari kelompok geng Vembajak.

Di geng itu, para junior harus mengumpulkan uang Rp 80 ribu per minggu. Uang itu digunakan untuk membeli miras sampai peralatan tawuran dari mulai gear motor sampai celurit.

Para senior yang mengetahui para juniornya ingin keluar dan mulai tidak nongkrong bareng lagi itu kesal.

“Sebenarnya anak saya dan yang lainnya ingin keluar. Mereka enggak nongkrong lagi. Eh taunya malah dijemput dan dikumpulin sampai dipukulin gitu,” ujar Iqbal di Ciputat, seperti dilansir TribunJakarta.com.

Iqbal menjelaskan, penganiayaan terhadap 9 junior itu dilakukan di dua tempat yakni di rumah salah satu pelaku dan di kantin sekolah.

“Ada dua tempatnya, pertama anak saya dan yang lain dijemput ke rumah seniornya itu, dipukulin kan di situ. Ada juga yang besoknya di kantin sekolah,” ujarnya.

Iqbal menyebutkan penganiayaan kepada para korban, “Dipukulin, disuruh push up, dicekokin rokok, miras oplosan, anaknya sendiri yang bilang itu oplosan. Malah ada yang disuruh matiin rokok pakai lidah,” tuturnya.

Penganiayaan itu sampai membuat trauma para korban, bahkan sampai ada yang dipindahkan dari sekolah.

Iqbal mengatakan, para orang tua korban memahami bahwa pelaku juga masih di bawah umur, namun ia berharap jalur hukum bisa memutus tradisi kekerasan di dunia pendidikan itu.

Laporan pun diterima pihak Polsek Ciputat dan diberi nomor pengaduan : LP/1124/K/XI/2019/SekCip/Res Tangsel.

Halaman
123
Penulis: Zaki Ari Setiawan
Editor: Dedy
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved