Jumat, 24 April 2026

Berita Video

VIDEO: Bola Karet Kelompok Ketapel Berisi Mercon Mirip Petasan Banting

"Jadi ini dibuat mirip dengan mercon banting. Jika dilempar meledak. Bila ada perantara yang mudah terbakar maka api bisa cepat menyambar. Misalnya de

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Ahmad Sabran
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Konferensi pers pengungkapan kasus upaya penggagalan pelantikan Presiden oleh enam pelaku dengan siapkan ketapel berpeluru gotri dan ban karet bisa meledak di Mapolda metro, Senin (21/10/2019) 

Enam orang yang ingin menggagalkan acara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden di Gedung DPR, Minggu (20/10/2019) kemarin dibekuk Polda Metro Jaya.

Mereka membuat dan menyiapkan puluhan ketapel berikut dengan gotri sebagai pelurunya, serta ratusan bola karet dari tali ban yang dililit dan bisa meledak saat dilemparkan atau terbentur dengan benda keras.

Keenam pelaku yang merupakan satu kelompok ini terdiri dari tiga pria dan tiga perempuan. Ketiga pria itu yakni SH, RH dan PSM, sementara tiga perempuan yakni E, FAB dan HRS.

Keenamnya dibekuk berturut-turut akhir pekan lalu dari sejumlah wilayah di Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Bogor.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan di dalam bola karet yang dibuat dari lilitan tali ban dalam, dipastikan ada bahan peledak. Hal itu setelah bola karet diperiksa Tim Gegana Polda Metro.

"Setelah diperiksa Tim Gegana, di dalam bola karet ada terdapat bahan peledak. Untuk jenisnya Puslabfor yang bisa menerangkan nanti kita akan serahkan ke labfor. Sewaktu dites dalam 3 kali percobaan, saat bola karet dilemparkan atau dibenturkan, maka langsung meledak," kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Senin (21/10/2019).

Menurut Argo ledakan yang terjadi cukup keras dalam ukuran sedang.

"Jadi ini dibuat mirip dengan mercon banting. Jika dilempar meledak. Bila ada perantara yang mudah terbakar maka api bisa cepat menyambar. Misalnya dengan perantara bensin," kata Argo.

Dari tangan keenam tersangka kata Argo disita sejumlah barang bukti mulai dari
belasan ketapel kayu dan ketapel pabrikan, lima ratusan gotri dan kelereng, bola karet sebesar kepalan tangan dari tali ban dalam yang dililit dan dapat meledak, ratusan karet gelang, tali dari bekas ban dalam yang hendak dijadikan 'bom' bola karet, beberapa bendera warna hitam dan putih bertuliskan huruf arab, dua buah bendera kecil Palestina, syal bergambar bendera palestina, gunting, KTP, kartu debit dan Suzuki Ertiga warna hitam B 2453 KFY.

Menurut Argo kelompok ini masih satu jaringan dengan dua kelompok dimana ada dosen non aktif IPB Abdul Basith serta mantan Danjen Kopassus Mayjen Soenarko, yang berjumlah 21 orang dan sudah dibekuk sebelumnya.

"Jika satu kelompok AB sebelumnya membuat bom isi paku dan merica serta kelompok lainnya membuat molotov, maka kelompok ini membuat dan menyiapkan ketapel kayu, peluru gotri serta ban karet dari lilitan tali ban yang bisa meledak. Jadi tiga kelompok ini satu jaringan," kata Argo dalam konpers di Mapolda Metro Jaya, Senin (21/10/2019)

Menurut Argo, ada komunikasi intens antara dosen IPB Abdul Basith serta kelompoknya dengan tersangka SH yang membuat dan menyiapkan ketapel peluru gotri serta bola karet yang bisa meledak.

"Jadi semua ini berawal dari adanya grand design besar yang intinya menggagalkan pelantikan Presiden dan Wapres di DPR pada tanggal 20 Oktober kemarin. Dimana pertemuan awal digelar di rumah SN di Ciputat untuk merencanakan penggagalan pelantikan ini," kata Argo.

Ia menjelaskan dalam. komunikasi antara Abdul Basith dan tersangka SH untum menggagalkan pelantikan presiden, kelompok SH ini rencananya menggunakan ketapel dan bola karet untuk menyerang aparat yang berjaga di gedung DPR/MPR pada 20 Oktober 2019.

"Dari hasil pemeriksaan diketahui, ketapel dan bola karet, akan dipakai di gedung DPR untuk menyerang aparat, atau akan diberikan ke demonstran," kata Argo.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved