Senin, 13 April 2026

Apindo Minta Pemerintah Batasi Produk Impor via E-Commerce, Ini Alasannya

Perlunya Indonesia membangun batasan agar tidak terjadi banjir produk luar negeri yang nantinya bisa melemahkan produk dalam negeri.

pexels
Ilustrasi. 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Bank Indonesia (BI) memandang bahwa tantangan terbesar untuk Indonesia saat ini salah satunya adalah membanjirnya produk luar negeri yang masuk melalui e-commerce.

Menurut Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI, Ida Nuryati, dalam transaksi di e-commerce tersebut hanya ada enam persen hingga tujuh persen produk lokal yang terjual.

Selebihnya adalah produk dari luar negeri.

Sudah Mulai Beralih ke Platform Digital, Televisi Sudah Berada di Titik Jenuh?

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani, memandang perlunya Indonesia membangun batasan agar tidak terjadi banjir produk luar negeri yang nantinya bisa melemahkan produk dalam negeri.

Hal ini bisa diantisipasi dengan penetapan tarif bea masuk dari pemerintah.

Hariyadi melihat bahwa usaha ini sudah dijalankan oleh pemerintah lewat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Kedua, Hariyadi meminta agar pemerintah lebih merangkul e-commerce lokal dan mengontrol kepemilikan asing agar jangan sampai menjadi mayoritas.

Lembaga Pemeringkat Internasional Beri Prospek Stabil, Berikut Rekomendasi Saham Perbankan

Ketiga, terkait dengan industri usaha kecil dan menengah (UKM).

Pemerintah diharapkan bisa lebih memacu industri UKM agar nantinya bisa bersaing dengan produk dalam negeri.

UKM ini juga harus diberi strategi tersendiri agar bisa memenuhi permintaan pasar dalam negeri.

"Dipantau juga, pokoknya jangan sampai UKM ini membuat barang tapi barang yang tidak laku. Oleh karena itu harus ada updating produk juga," ujar Hariyadi kepada Kontan.co.id, Senin (21/10/2019).

BI sudah memiliki catatan terkait transaksi 14 e-commerce besar di Indonesia.

Akan Melakukan Dual Listing, Berikut Ini Rencana Tokopedia

Bahkan, menurut Ida Nuryati, sudah ada e-commerce yang bisa dipantau dengan pengawasan machine to machine (M2M).

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Direktur Eksekutif Statistik BI, Yati Kurniati.

"Benar. Sudah ada empat e-commerce besar dan satu online delivery service," kata Yati kepada Kontan beberapa waktu lalu.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved