Kamis, 14 Mei 2026

Ada 3 Cara soal Mitigasi Tsunami, Ini Penjelasan dari Ahli Tsunami

Para ahli kegempaan dan tsunami terus berupaya untuk meneliti potensi-potensi gempa besar dan tsunami di Indonesia.

Tayang:
global.weathernews.com
ILUSTRASI Radar Tsunami 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Indonesia merupakan negara rawan bencana, dan setiap hari selalu diguncang gempa.

Setiap hari, BMKG mendeteksi dan melaporkan guncangan gempa di Indonesia.

Baik yang berskala besar dan dapat dirasakan, hingga yang berlangsung sekejap dan tidak kita rasakan.

Gempa-gempa besar atau yang disebut gempa megathrust merupakan gempa yang berpotensi tsunami.

Sejarah mencatat, tsunami pernah menerjang pesisir Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan juga Papua sejak ratusan tahun lalu.

Hingga Oktober IHSG Turun 3 Persen, Saham-saham Ini yang Bisa Menahan Penurunan Indeks

Perlu diketahui, bencana alam seperti tsunami dan gempa besar merupakan fenomena dengan siklus berulang.

Artinya ratusan tahun lalu pernah terjadi, beberapa tahun belakangan terjadi, dan di masa depan pasti akan terjadi lagi.

Oleh sebab itu, para ahli kegempaan dan tsunami terus berupaya untuk meneliti potensi-potensi gempa besar dan tsunami di Indonesia.

Namun, kajian dan penelitian dari para ahli juga harus diimbangi upaya masyarakat, salah satunya dengan mitigasi sejak dini.

Memahami tsunami

Dalam acara bertajuk Mitigasi di Tengah Ancaman Gempa Megathrust di Yogyakarta, Sabtu (19/10/2019), Widjo Kongko, ahli tsunami sekaligus Perekayasa Bidang Kelautan Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai (BTIPDP) dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjelaskan tentang tsunami dan bagaimana mitigasinya.

"Tsunami merupakan perpindahan volume air laut akibat gempa bumi, letusan gunung api, atau longsor. Hal ini bisa membuat daratan yang ada di dasar laut mengalami perubahan (naik) sehingga menimbulkan tsunami," kata Widjo.

Dia mengatakan, gelombang di laut dalam bergerak dengan sangat cepat, sekitar 800 kilometer per jam.

Namun semakin mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami berkurang, yakni di bawah 80 kilometer per jam.

"Kalau sudah sampai pantai kira-kira (kecepatan gelombangnya) 30-40 kilometer per jam," kata Widjo.

Mengapa Investor Asing Masih Senang dengan Surat Berharga Negara?

Dari bukti-bukti fenomena tsunami yang sudah pernah terjadi sebelumnya, ketika tsunami sudah masuk bibir pantai makhluk hidup yang ada di sekitarnya sudah tidak bisa lari ke manapun.

Saat manusia tak sempat berlari ke tempat lebih tinggi dan menyelamatkan diri, dapat dipastikan dia akan terseret ombak tsunami.

Data dunia yang dikumpulkan International Disaster Database dan BNPB juga menyebutkan bahwa gempa bumi dan tsunami merupakan bencana alam yang paling banyak menelan korban dibanding banjir, tanah longsor, puting beliung, kekeringan, erupsi gunung berapi, abrasi, dan karhutla.

Data statistik korban meninggal karena bencana yang dihimpun BNPB dan International Disaster Database.

Mitigasi tsunami

Berlari

Widjo menyarankan, ketika kita merasakan gempa kuat cukup lama hingga beberapa detik dan sedang berada di bibir pantai, usahakan untuk langsung pergi menjauh dari pesisir.

"Saran saya, kalau sudah merasakan gempa cukup lama dan berada di sekitar kawasan pantai, lebih baik langsung lari menuju tempat lebih tinggi," kata Widjo.

Hutan mangrove

Selain berlari, para ahli tsunami termasuk Widjo sepakat bahwa hutan mangrove atau hutan bakau dapat mengurangi dampak buruk tsunami.

Gambarannya seperti ini, jika kita berada di sungai dan tak ada pelindung apapun, kemudian tiba-tiba ada gelombang air datang, maka sangat mungkiin kita akan hanyut terbawa air tersebut.

Namun, jika ada pelindung seperti pepohonan yang sengaja diletakkan di sungai, maka energi terpaan gelombang air yang dirasakan tidak sebesar pada kasus pertama dan hal ini akan mengurangi dampak tsunami.

"Hutan mangrove dengan luas sekitar 400 meter persegi, efektif mereduksi tsunami dengan ketinggian 6 sampai 7 meter, menjadi 1,5 meter. Ini yang terjadi di Muawe, Lahewa, Pulau Nias dan Pantai Barat Aceh," kata Widjo.

Ringkasan Perdagangan Bursa Saham selama Satu Pekan

Adopsi kearifan lokal

Seperti disebutkan di atas, fenomena tsunami yang menerjang Nusantara merupakan pola berulang.

Ratusan atau ribuan tahun lalu pernah terjadi, hari ini terjadi, dan di masa depan juga akan terjadi.

Berbagai kearifan lokal dalam bentuk mitos, cerita rakyat, lagu, syair, hikayat di masa lalu sebenarnya juga mengisahkan tentang situasi di masa lalu, salah satunya ketika tsunami menerjang.

Widjo mengatakan, beberapa nama desa di Indonesia sebenarnya diambil dari nama tsunami atau bencana alam di masa lalu.

"Indonesia daerah gempa bumi dan tsunami pada masa lalu, kini, dan yang akan datang. Masih banyak kejadian bencana dan peninggalannya yang belum digali dan diteliti," kata Widjo.

"Untuk mitigasi, kita perlu mengenali karakteristik ancaman bencana yang unik di setiap daerah, adopsi keraifan lokal, penguatan kapasitas, dan sinergitas stakeholders," kata Widjo.

BPJS Kesehatan Defisit, Berikut Harapan BPJS Watch Pada Pemerintahan Periode Jokowi

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul 3 Cara soal Mitigasi Tsunami, Salah Satunya Adopsi Kearifan Lokal

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved