Minggu, 19 April 2026

Jakarta

Pengamat Minta Anies Jangan Cari Pembenaran Soal Rangkul PKL di Trotoar

Pengamat Tata Kota Nirwono Joga meminta Gubernur DKI Anies Baswedan untuk tidak mencari pembenaran atas kebijakannya dalam merangkul PKL di trotoar.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri |
Warta Kota/Mohamad Yusuf
Bangunan pedagang nasi kapau dan lemang di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, dibongkar untuk perluasan trotoar. Jika sudah selesai mereka akan berjualan di trotoar tersebut. 

Pengamat Tata Kota Nirwono Joga meminta kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk tidak mencari pembenaran atas kebijakan yang dikeluarkan dalam merangkul pedagang kaki lima (PKL) di trotoar.

Apalagi sterilisasi gangguan pejalan kaki di trotoar telah diatur dalam UU Nomor 38 tahun 2004 tentang Jalan.

“Kalau ada peraturan di bawahnya seperti Permen PUPR, Perda dan Pergub itu melanggar UU, yah harusnya kita kembalikan ke UU sebagai aturan yang lebih tinggi. Jangan malah menjadi alasan pembenaran melakukan itu padahal jelas melanggar UU,” kata Nirwono pada Rabu (11/9/2019).

Hal itu dikatakan Nirwono usai mengikuti dialog bersama di ruang Fraksi DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.

Adapun tema yang dibahas dalam dialog itu adalah ‘Menyongsong Revisi Perda RDTR (Rencana Detail Tata Ruang)’.

 Niat Bunuh Jenderal, Kivlan Zen Suruh Orang Cari Senjata Api Ternyata Cuma Cocok Matiin Tikus

 Daftar Lengkap Bursa Transfer Liga 1 2019, Persib, Persija Jakarta, PSM Makassar Paling Aktif

 TERBONGKAR Mulan Jameela Kerap Makan di Warteg, Keuangan Istri Ahmad Dhani Ini Sedang Sulit?

 

Dalam kesempatan itu, Nirwono juga meminta agar DKI jangan mengambil contoh kota maju di negara lain dalam merangkul PKL di trotoar.

Tidak hanya kultur yang berbeda, tapi tingkat kesadaran masyarakat Indonesia dengan negara lain juga tidak sama.

Selama ini Anis berpandangan penataan PKL di trotoar bisa dilakukan karena berkaca dari kota besar seperti New York, Amerika Serikat.

Mereka mampu menata kios permanen maupun mobile dengan baik di sejumlah ruas pejalan kaki.

“Biarpun contohnya seperti New York, London dan Paris bagus begitu, tapi ketika berada di Indonesia kan yang dipakai peraturan Indonesia. Begitu celah pelanggaran UU boleh dilakukan, saya khawatir nanti akan diikuti oleh Wali Kota dan Bupati lain karena aturan UU berlaku se-Indonesia,” imbuhnya.

 Fakta Kelemahan Timnas Indonesia di Laga Kualifikasi Piala Dunia yang Bisa Dijadikan Bahan Evaluasi

Bila hal itu terjadi, kata dia, maka DKI justru menjadi contoh yang buruk bagi daerah lain.

Dia memahami maksud Anies untuk merangkul PKL demi perekonomian rakyat, namun alangkah baiknya dengan kebijakan lain.

Misalnya menerapkan Peraturan Gubernur Nomor 10 Tahun 2015 tentang Penataan dan Pemberdayaan PKL dengan memasukan para PKL ke dalam pasar rakyat.

Bahkan pengelola mal diminta menyiapkan lahan sekitar 10 persen dari total lahan yang dibangun untuk mengakomodasi PKL.

 Gagal Menggaet Ezra Walian Buat Pendamping King Eze, Persib Bandung Incar Pemain Ini

“Pemprov juga bisa libatkan kantor-kantor yang ada di Jakarta untuk merangkal PKL lewat kantin, termasuk mengajak mereka dalam setiap kegiatan festival. Jadi bukan PKL nggak boleh berjualan, justru boleh jualan tetapi diatur. Ini yg harus dijelaskan,” katanya. (faf)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved