Selasa, 5 Mei 2026

Finansial

Analis Keuangan Mendorong agar BJB Meningkatkan Nilai Jual

Karena, dengan meningkatnya dana yang dihimpun BJBR bisa meningkatkan kredit dan perusahaan untuk mulai menggunakan QR code.

Tayang:
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Ilustrasi. Bursa Efek Indonesia 

Bank Jabar Banten (BJB) menjadi Bank Pembangunan Daerah (BPD) dengan kinerja yang kurang meyakinkan, yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2019 lantaran merosotnya laba dan terpangkasnya kapatilisasi bank.

Analis Jasa Utama Capital, Chris Apriliony  mengatakan, jika pendapatan dan kinerja BJB dibandingkan tahun 2018 memang mengalami penurunan di tahun 2019 ini.

"Tercatat, pendapatan BJBR hingga kuartal kedua ini sebesar Rp 800 miliar."

"Hanya saja, BJBR pendapatannya jika dibandingkan dengan tahun lalu, terlihat menurun," katanya dikutip Antara di Jakarta, Senin (26/8/2019).

Chris menyarankan, agar BJB dapat meningkatkan nilai jual kepada masyarakat dan korporasi untuk memperbaiki merosotnya laba serta kinerja.

"Karena, dengan meningkatnya dana yang dihimpun BJBR bisa meningkatkan kredit dan seperti yang sudah direncanakan perusahaan untuk mulai menggunakan QR code," katanya.

BJB bersama dua bank daerah lainnya yakni PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) melantai di BEI.

BJB sendiri mengalami kemerosotan dan kerugian cukup siginifikan di 2019 ini.

Pasalnya, kapitalisasi pasar bank tersebut menguap dan terpangkas hingga Rp 4,09 triliun.

Melansir publikasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), per akhir 2018 Bank BJB memiliki kapitalisasi pasar senilai Rp 19,68 triliun.

Per akhir perdagangan, kemarin, melansir data RTI, kapitalisasi pasar Bank BJB hanya tersisa Rp 15,59 triliun. 

Selain itu, sepanjang tahun 2019 hingga penutupan perdagangan kemarin, 8/8/2019 harga saham Bank BJB sudah anjlok dan match hingga 22,68%, dari Rp 2.050/unit menjadi Rp 1.585/unit.

Faktor fundamental sendiri disinyalir menjadi alasan utama di balik ambruknya harga saham Bank BJB di sepanjang tahun 2019.

Pada tanggal 25 Juli 2019, perusahaan merilis kinerja keuangan periode semester I-2019.

Hasilnya, laba bersih perusahaan tercatat menurun hingga 11,2% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 803 miliar. Pada semester I-2018, laba bersih perusahaan adalah senilai Rp 903 miliar.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved