Batik Garuda Nusantara

Mencipta Batik Garuda Nusantara Sebagai Budaya Dunia dari Indonesia

Selembar kain sepanjang 74 meter sedang dalam proses menjadi ikon budaya Indonesia.

Mencipta Batik Garuda Nusantara Sebagai Budaya Dunia dari Indonesia
Yayasan Tjanting Batik Nusantara
Presiden Joko Widodo mencontreng canting di acara Batik Kemerdekaan di Stasiun MRT Bundaran HI 

Kesuksesan Korea Selatan menjadikan K-pop dan taekwondo menjadi populer di dunia, ternyata membuat "iri" Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Pria Solo ini menginginkan agar bangsa Indonesia juga ikut menyumbangkan budayanya menjadi budaya dunia, dan batik bisa menjadi awal untuk program itu.

Keinginan Presiden itu disambut baik oleh Yayasan Tjanting Batik Nusantara (TBN), yang telah
memiliki ide serupa. Maka pada 1 Agustus kemarin, Presiden mencontrengkan canting ke kain mori
sepanjang 74 meter, di lobi stasiun MRT Bundaran HI.

Hanya saja, program ini tak mau berhenti hanya di sekadar kegiatan seremoni, sehingga TBN akan
melanjutkan contrengan itu dengan pembuatan batik yang akan menjadi ikon gerakan budaya masyarakat Indonesia di dunia. Batik itu diberi nama Garuda Nusantara.

Batik ini dibuat dengan menggunakan proses batik tulis halus di kedua sisi bolak balik dari kain
tersebut. Saat ini, kedua sisi kain sudah memiliki motif, yaitu “Gurdo” atau Garuda di sisi depan,
yang melambangkan simbol Garuda Pancasila yang menjadi dasar Negara Kesaruan Republik Indonesia
(NKRI).

Sedangkan sisi belakang berisi motif Sekar Jagat, Kawung, dan Parang, karena motif-motif tersebut
melambangkan kekayan budaya Nusantara.

Batik Garud aNusantara masih dalam tahap sketsa
Batik Garud aNusantara masih dalam tahap sketsa (Yayasan Tjanting Batik Nusantara)

Sementara kain mori sepanjang 74 meter, yang beratnya mencapai 10 kilogram, merupakan simbol usia Republik Indonesia pada tahun ini, yang akan menginjak usia 74 tahun.

8 Sentra Batik

"Kami kemudian melanjutkan pencontreng batik ini dengan membawanya keliling ke 8 sentra batik di
Indonesia, yakni Cirebon, Pekalongan, Lasem, Madura, Solo, Yogyakarta, Bengkulu dan Jambi. Para
artisan batik di sentra-sentra itu kemudian akan melanjutkan prosesnya dengan menorehkan malam,"
kata Pheo Hutabarat,Ketua Dewan Pengawas TBN.

Delapan sentra batik itu, katanya, memiliki motif khas masing-masing, namun di kain Garuda Nusantara itu tak adan motif yang dominan. Semua sentra itu menyumbangkan kekhasan mereka dalam sebuah desain batik yang harmonis

Halaman
12
Penulis: AC Pingkan U
Editor: AC Pinkan Ulaan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved