Ada 15 Juta Orang Kapok Menggunakan Facebook
Kebocoran data, berisikan kampanye hitam, dan hoax membuat 15 juta orang kapok menggunakan Facebook.
Meski riset memperkirakan ada penurunan jumlah pengguna remaja dan milenial di AS, peningkatan basis pengguna bulanan Facebook justru meningkat jika dilihat secara global.
Berdasarkan laporan finansial terbaru Facebook yang dirilis di blog resminya, pada akhir 2018 pengguna aktif bulanan jejaring sosial tersebut meningkat sebanyak 9 persen ke angka 2,32 miliar.
Pengguna platform Instagram juga meningkat ke angka 1 miliar pengguna dengan 400 juta pengguna bulanan yang menggunakan fitur Instagram Stories.
Terkait remaja dan milenial, Facebook pun belakangan ini mencoba mengimplementasikan beberapa fitur di dalam layanannya untuk menggaet kembali pengguna dari demografi tersebut.
Salah satunya dengan mengimplementasikan fitur Instagram, seperti Stories, di aplikasi Messenger dan Facebook.
• Saat Ini Fintech Sudah Merambah Jual Beli Emas, Ada 4 Fintech Jadi Anggota Aftech
Penjaja likes palsu
Sementara itu, Facebook ingin total dalam memberangus akun palsu di platform jejaring sosialnya.
Tak hanya menggunakan machine learning dan tenaga manual untuk menyisir akun palsu, mereka juga menempuh jalur hukum.
Facebook dan Instagram melayangkan gugatan ke pengadilan federal Amerika Serikat, ditujukan kepada empat perusahaan dan tiga orang berdomisili di China yang disebut Facebook menjajakan akun, followers (pengikut), dan likes palsu.
Menurut Facebook dan Instagram, pabrikan tersebut mempromosikan akun palsu di platform online seperti Amazon, Apple, Google, LinkedIn, dan Twitter.
Secara spesifik, gugatan yang diajukan Facebook dan anak perusahaanya adalah meminta pengadilan untuk mencegah perusahaan dan orang-orang untuk membuat dan mempromosikan akun palsu.
Facebook juga meminta pengadilan untuk menghentikan tindakan ilegal menggunakan merek dagang Facebook di situs web para produsen akun palsu, serta penggunaan domain berembel-embel Facebook di situs mereka.
"Dengan mengajukan gugatan ini, kami berharap bisa menegaskan bahwa tindakan penipuan semacam ini tidak ditoleransi dan kami akan bertindak tegas untuk melindungi integritas platform kami," kata Vice President and Deputy General Facebook, Paul Grewal.
• Memilih Menjadi Youtuber Dibandingkan Peneliti, Penjelasan Ditjen Pajak
Facebook dan Instagram menghadapi tekanan atas maraknya berita hoaks dan akun palsu yang beredar di platformnya, terutama yang berkaitan dengan isu politik di beberapa negara.
Aksi bersih-bersih akun palsu yang ditengarai menjadi biang keladi berita hoaks pun dilakukan di Amerika Serikat dan sejumlah negara lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20180519-facebook_20180519_150824.jpg)