Dalih Hari Membanting Anak Tiri hanya karena Dapat Bisikan
Dia mengaku, melakukan aksi kejamnya karena dapat bisikan. Namun, dia tidak menjelaskan bisikan dimaksud.
Hari Kurniawan (24), pria yang membanting anak tirinya, Fitri (2), hingga berujung tewas, menyesali perbuatannya.
Dia mengaku, melakukan aksi kejamnya karena dapat bisikan.
Namun, dia tidak menjelaskan bisikan dimaksud.
"Saya kasihan, Pak. Saya seperti ada bisikan ngebanting," ujar Hari saat dihadirkan polisi di Polresta Depok, Senin (11/2/2019).
Lelaki yang sehari-hari menjadi pengamen jalanan itu juga mengaku melakukan kekerasan kepada anak tirinya di bawah pengaruh minuman keras. Selain itu, dia juga mengakui menganiaya Fitri karena kesal kepada istrinya, Eni (18), yang merupakan ibu kandung Fitri.
Untuk diketahui, saat pasangan pengamen ini menikah, baik Hari maupun Eni telah memiliki masing-masing satu anak dari pernikahan sebelumnya. Anak hari yang juga masih kecil, Fahira (3), kini dalam perawatan keluarga ibunya.
Hari membanting Fitri di rumah kontrakannya di kawasan Kelurahan Cimpaeun, Kecamatan Tapos, Selasa (5/2/2019) lalu. Gadis malang itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, Jumat (8/2/2019).
"Waktu itu saya habis mabok minuman. Saya kesal karena istri suka mukul anak saya juga. Sudah dua tahun nikah sering cekcok karena masalah ekonomi," ucap Hari.
Diakui Hari, saat membanting Fitri, istrinya sama-sama ada di rumah. Dia tak menyangka perbuatannya sampai mengakibatkan kematian Fitri.
"Dia lagi jongkok, keteknya saya angkat langsung saya lempar ke lantai yang ada kasurnya. Kemarin enggak apa-apa," bilang pria bertato itu.
Dugaan pelecehan
Selain melakukan penganiayaan, Hari diduga juga turut melakukan pelecehan seksual terhadap anak tirinya. Hal itu diketahui dari pengakuan Hari sendiri kepada polisi.
Wakapolresta Depok, Ajun Komisaris Besar Aria Perdana, menyampaikan, sebelum tewas pada Jumat lalu, Hari sedang berada di kontrakan bersama Fitri dan anak kandungnya. Sementara Eni sedang pergi mengamen.
"Istrinya berangkat kerja, terus disampaikan, 'pulangnya jangan sore-sore kalau bisa'. Tapi katanya istrinya enggak pulang-pulang. Di rumah cuma ada nasi, enggak ada lauk. Dia marah lagi, tapi marahnya sama anak dari istrinya," ujar Aria di Polresta Depok.
"Anaknya itu diciumin, dipukul, dibanting, dimasukin tangannya ke kemaluan, dibanting ke kasur," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/bantingbayi.jpg)