Ruang Udara Bentrok Dengan Halim Perdanakusuma, Bandara Pondok Cabe Tak Bisa Jadi Bandara Komersial
Pertanyaannya kenapa Pondok Cabe tidak menjadi bandara komersial, menurut Muhammad Awaluddin, hal itu terjadi akibat ruang udara.
Penulis: AchmadSubechi | Editor: AchmadSubechi
DALAM setahun jumlah penumpang pesawat terbang yang terbang dari Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma, mencapai 74 juta.
"Kalau kita pakai data, Soekarno-Hatta trafficnya 66 juta, Halim 7,5 juta. Total hampir 74 juta. Bayangkan, ada 74 juta orang yang terbang dari Soekarno-Hatta dan Halim. Darimana saja mereka? Jakarta greater area atau Jabodetabek," kata Direktur Utama Aangkasa Pura II Muhammad Awaluddin.
Jika dibandingkan dengan London Metropolitan Area yang jumlah penduduknya sekitar 25 sampai 30 juta, dicover oleh lima bandara.
Kelima bandara itu adalah Bandara London City, Bandara London Heathrow, Bandara London Gatwick, Bandara London Luton dan Bandara London Stansted.
"Bandara London Luton dan Bandara London Stansted, khusus untuk LCC. Khusus untuk maskapai low cost. Sedangkan Bandara London City itu bandara yang paling mahal karena melayani bisnis traveller," tambah Muhammad Awaluddin.
Bagaimana dengan di Indonesia? "Kalau di kita yang terjadi sekarang kebalikannya. Bandara Halim itu ditengah kota, dikasih yang murah. Harusnya orang yang dapat fasilitas lebih banyak, itu lebih mahal," ujarnya.
Menurut Muhammad Awaluddin, jika dibagi dengan konsep balancing traffic, sebenarnya Bandara Kertajati adalah bandara yang membalancing traffic di Bandara Soekarno-Hatta dan Kertajati.
Bagaimana dengan Bandara Pondok Cabe? "Sebenarnya kalau mau didorong, Bandara Pondok Cabe juga punya peluang. Itu wilayah Bogor, Depok, Sawangan dan Tangerang Selatan kan populasi penduduknya 8,5 juta," ujarnya.
Pertanyaannya kenapa Pondok Cabe tidak menjadi bandara komersial, menurut Muhammad Awaluddin, hal itu terjadi akibat ruang udara.
"Ruang udaranya bentrok sama Halim Perdanakusuma. Jadi ruang udara dalam standar penerbangan internasional, satu bandara punya ruang udara yang tidak boleh diganggu gugat dengan area ruang udara yang lainnya. Kalau anda mau bikin bandara dalam satu tempat dengan dua atau tiga bandara monggo saja, yang penting ruang udaranya 25 nautical mile. Tidak boleh terganggu dengan ruang udara lainnya," ujarnya.
Bandara Pondok Cabe, memiliki landasan berukuran 45 meter x 2.500 meter. Landasan ini dalam beberapa tahun terakhir sempat dilapis ulang.
Begitu juga lajur pesawat dan apronnya sudah diperbaiki. Ruang tunggu dan ruang pelaporan juga dipercantik. Kapasitas ruang tunggu bisa menampung sekitar 80-100 orang.
Seperti diberitakan sebelumnya, tahun 2016, Pertamina dan Garuda Indonesia telah menandatangani kerja sama pemanfaatan Bandara Pondok Cabe di Kementerian BUMN dan disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno.
Dari sewa bandara itu, Pertamina mengantongi Rp 40 miliar-Rp 50 miliar per tahun sedangkan Garuda bisa membuka penerbangan komersial berjadwal di sana. Diperkirakan pada tahap awal akan ada 30 penerbangan setiap hari. Bandara tersebut akan menghubungkan delapan kota.
Bagaimana dengan rencana pembangunan Bandara Maja? "Salah satu kendala di Maja itu juga ada isu yang menyangkut ruang udara. Ruang udara yang dimana, di Atang Sanjaya," ungkapnya.