Soal Pembebasan Abu Bakar Baasyir, Ini Kata PM Australia dan Penyintas Bom Bali 2002

PERDANA Menteri Australia Scott Morrison meminta agar Indonesia menghargai para korban bom Bali 2002 dengan tidak membebaskan Abu Bakar Baasyir.

Tribun Bali/Nyoman Mahayasa
SEORANG wisatawan turut menyalakan lilin dalam upacara peringatan 15 Tahun Bom Bali sekaligus launching buku Luka Bom Bali: Kisah Nyata dari Kejadian Bom di Bali di areal Ground Zero Kuta, Badung, Kamis (12/10/2017). 

PERDANA Menteri Australia Scott Morrison meminta pemerintah Indonesia untuk membatalkan keputusan pembebasan terpidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir.

Dalam pernyataannya, Selasa (22/1/2019), Morrison meminta agar Indonesia menghargai para korban bom Bali 2002. Dia mengaku akan melayangkan protes jika Abu Bakar Baasyir dibebaskan sebelum waktunya.

"Saya jelas akan sangat kecewa tentang hal itu (pembebasan Abu Bakar Baasyir), seperti warga Australia lainnya," katanya, seperti dikutip dari The New York Times.

Pembebasan Abu Bakar Baasyir Dikaji Ulang, Fadi Zon: Masa Menkopolhukam Koreksi Presiden?

Australia Keberatan Abu Bakar Baasyir Dibebaskan, Maruf Amin: Itu Urusan dalam Negeri Kita

"Kami tidak ingin karakter semacam itu bisa keluar dan menghasut pembunuhan kepada warga Australia dan Indonesia, menyebarkan doktrin kebencian," ucapnya.

"Menghargai harus ditunjukkan bagi mereka yang kehilangan nyawa," imbuhnya.

Morrison dan pejabat pemerintah federal telah melakukan kontak langsung dengan pemerintah Indonesia untuk menunda pembebasan Baasyir.

"Warga Australia meninggal secara tragis pada malam itu, dan saya pikir warga Australia berharap masalah ini ditangani secara serius oleh pemerintah kita," kata pria berusia 50 tahun itu, sebelumnya.

Bom Bali 2002

Seperti diketahui, sebanyak 88 orang dari 202 korban tewas bom Bali pada 2002 merupakan warga Australia.

Penyintas (korban selamat) serangan bom Bali dan kerabat korban lainnya menentang rencana pembebasan Baasyir. Sebut saja Phil Britten.

Dia dulu merupakan kapten klub sepak bola di Australia yang sedang bersama 19 temannya di klub malam di Bali, ketika bom meledak dan membunuh 7 anggota tim.

"7 teman saya meninggal, mereka tidak mendapat kesempatan selama sisa hidup mereka. Kenapa harus dia? Saya pikir ini mengerikan," ucapnya.

Peter Hughes yang menderita luka bakar 50 persen di tubuhnya dalam ledakan itu juga mengecam pembebasan Baasyir.

"Dia mungkin seharusnya dapat hukuman mati," tuturnya.

Didanai Australia dan AS

SBS News mencatat, insiden bom Bali 2002 mendorong Indonesia untuk membentuk pasukan anti-terorisme yang menerima dana dan pelatihan dari Australia dan Amerika Serikat (AS).

Dalam perkembangan terbaru terkait rencana pembebasan Baasyir, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto menegaskan, pembebasan Baasyir membutuhkan pertimbangan dari sejumlah aspek terlebih dahulu. (Veronika Yasinta)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Terkait Ba'asyir, PM Australia Desak Indonesia Hargai Korban Bom Bali"

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved