Breaking News:

Citizen Journalism

Kekerasan Terhadap Perempuan, Mitos Atau Fakta?

Kesadaran masyarakat Indonesia masih rendah terhadap kekerasan terhadap perempuan

Kompas.com
Ilustrasi 

Oleh: Zalfa Zaachira Fachrudin, Mahasiswa London School of Public Relation 

Masalah kekerasan terhadap perempuan rasanya sulit diselesaikan dengan tuntas. Meskipun telah banyak usaha yang dilakukan, kekerasan terhadap perempuan masih terjadi di sekitar kita.

Kesadaran masyarakat Indonesia yang masih rendah terhadap kekerasan terhadap perempuan mempunyai pengaruh besar bagi faktor fisik dan faktor kejiwaan korban.

Kekerasan terhadap perempuan di setiap tahunnya semakin meningkat.

Berdasarkan riset tiga tahun belakangan ini, temuan Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan ada 16.217 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi pada tahun 2015 dan didominasi oleh pelecehan seksual.

Lalu, pada tahun 2016 Komnas Perempuan mencatat 259.150 kasus kekerasan terhadap terempuan yang didominasi oleh Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kekerasan dalam pacaran.

Dan pada tahun 2017, Komnas Perempuan mencatat 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan didominasikan oleh KDRT dan kekerasan dalam pacaran.

Berdasarkan hasil data yang diperoleh Komnas Perempuan dari tahun 2015-2017, peningkatan kekerasan terhadap perempuan melonjak drastis pada setiap tahunnya.

Berdasarkan riset Temuan Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2016 terdapat 69% kasus kekerasan dengan pelaku orang terdekat dan 31% dengan pelaku bukan orang terdekat.

Perbandingan presentase 69% dan 31% adalah 11.207 : 5.002.

Kisah Lady Gaga

Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan berdasarkan perbedaan kelamin yang mengakibatkan kesengsaraan dan penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis.

Termasuk ancaman tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi.

Seperti pelantun lagu “poker face”, bintang film dan musisi bernama Stefani Joanne Angelina Germanotta yang akrab disebut dengan Lady Gaga telah mewarnai ranah industri musik dengan karyanya.

Lady Gaga pernah mengalami kekerasan seksual saat berumur 19 tahun dengan motif pemerkosaan dengan tersangka seorang produser musik.

“Saya merasa terkejut. Anda tahu rasanya ketika anda di atas roller coaster dan anda hendak jatuh ke landaian yang curam? rasa takut dan perasaan jatuh di perut anda? diafragma saya mengencang. Lalu saya kesulitan bernapas dan seluruh tubuh saya mengejang. Saya mulai menangis. Itu rasanya bagi korban yang menghadapi trauma setiap hari, dan itu rasanya sengsara, Saya selalu bilang bahwa trauma memiliki otak sendiri. Dan itu selalu mempengaruhi segala hal yang Anda lakukan”, ujar Lady Gaga pada perhelatan ELLE Women in Hollywood ke-25.

Pidato yang Gaga sampaikan pada acara ELLE Women in Hollywood 2018, menyatakan bahwa peristiwa pemerkosaan tersebut telah mengubah jati dirinya.

“Tidak ada yang menawarkan perlindungan atau menuntun saya ke tempat di mana keadilan akan ditegakkan, mereka bahkan tidak menyarankan agar saya meminta penanganan kesehatan mental yang sesungguhnya sangat saya butuhkan. Semua laki-laki itu bersembunyi karena mereka takut kehilangan kekuatan mereka. Dan karena mereka sembunyi, maka saya juga ikut sembunyi,” ungkap Lady Gaga saat mencoba menceritakan kejadian yang menimpanya kepada para lelaki yang berkuasa di Hollywood.

Tanpa rasa pamrih, putus asa, dan sangat mempunyai keinginan besar mengajak seluruh perempuan untuk membela kebenaran dan speak up Lady Gaga mengajak semua perempuan dan lelaki yang kuat yang hadir pada saat itu untuk bekerja sama menuntun dunia ke arah kebaikan. 

"Saya sangat beruntung bisa mendapatkan tim yang membantu saya. Saya ingin kesehatan mental menjadi prioritas global. Kita tidak dapat mengontrol semua tantangan dan tragedi yang diberikan oleh kehidupan. Namun kita bisa bekerja sama menghadapinya,"

"Dan kita bisa menemukan kekuatan dengan cara terbaik yang bisa kita lakukan dengan meminta bantuan yang kita butuhkan, Sebagai seorang pejuang pelecehan seksual, perempuan yang tidak memiliki keberanian untuk menyebutkan namanya, sebagai perempuan yang merasakan kesakitan kronis, sebagai perempuan yang selalu dituntut untuk mendengarkan apa yang dikatakan laki-laki tentang apa yang harus ia lakukan, saya putuskan hari ini untuk mengambil kembali kekuatan yang telah direnggut”

 Jenis Kekerasan Terhadap Perempuan 

Ada tiga jenis kekerasan terhadap perempuan, diantaranya kekerasan fisik yaitu meliputi segala bentuk kekerasan yang menyakiti fisik, mulai dari dorongan, cubitan, tendangan, jambakan, pukulan, cekikan, bekapan, luka bakar, pemukulan dengan alat pemukul, kekerasan dengan benda tajam, siraman air panas atau zat kimia, menenggelamkan dan penembakan, kekerasan psikologis yaitu perbuatan yang mengakibatkan ketakutan,  hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan  penderitaan psikis berat pada seseorang.

 Berbagai bentuk kekerasan psikologis antara lain meliputi penghinaan, komentar-komentar yang menyakitkan atau merendahkan diri, mengurung seseorang dari dunia luar, mengancam atau menakut-nakuti, dan kekerasan seksual yaitu Kekerasan seksual adalah setiap penyerangan atau kekerasan yang bersifat seksual, baik telath terjadi persetubuhan atau tidak,  baik ada atau tidaknya hubungan antara korban dan pelaku kekerasan.

Kekerasan terhadap perempuan berdampak negatif yang bisa menyebabkan trauma fisik (penyakit fisik, kecacatan, kematian)  dan problem kejiwaan (depresi, gangguan panic, fobia, psikosomatis, insomnia, PTSD, kurangnya percaya diri, menghambat kemampuan perempuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mengganggu kesehatan.

Menurut kepala pelayanan kesehatan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak) ada tiga dampak kekerasan terhadap perempuan yaitu dampak fisik (cedera, luka-luka, patah tulang, luka bakar, dsb.), psikologis (proses pikir, perasaan, dan perilaku), dan sosial (hubungan sosial yang tidak baik, masalah ekonomi, terisolasi, dsb.).

Kasus kekerasan terhadap perempuan itu seperti gunung es, yang dilaporkan atau terdata hanya terlihat di permukaannya saja, karena biasanya sang pelaku merupakan orang terdekat, jadi jika dilaporkan dianggap sebagai beban atau aib keluarga.

Sementara, data yang didapat oleh peneiliti MaPPI FHUI bernama Bestha Inatsan Ashilla yang bertugas memantau pemberitaan di media online selama tiga bulan terakhir memperoleh hasil yang sangat mengejutkan.

Berdasarkan hasil pemantauannya pada periode Agustus hingga Oktober 2016, tercatat 367 kasus pemberitaan mengenai kekerasan seksual.

Sebanyak 275 kasus kekerasan tersebut berada di Indonesia.

“Sebanyak 73 persen atau paling besar terjadi di Pulau Jawa, diikuti Sumatera dengan 13 persen, 5 persen terjadi di Papua, 4 persen terjadi di Bali-NTB-NTT, Sulawesi 3 persen dan Kalimantan sebanyak 2 persen,” ujar Bestha dalam jumpa pers kemarin.

 Upaya Pemkot Tangerang 

Upaya pemerintah kota Tangerang untuk menghadapi kekerasan terhadap perempuan telah berjalan seperti memberikan konseling edukasi dan informasi tentang kekerasan terhadap perempuan berdasarkan kelompok sasaran.

Kekerasan terhadap perempuan mendapatkan efek  langsung: 5% dan kematian; 25 % dengan komplikasi serius (patah tulang, luka bakar, cacat menetap dsb) akibat perkosaan ( Kehamilan , terkena menyakit menular seksual), gangguan perkembangan kejiwaan dan gangguan perasaan (depresi).

Dan upaya untuk para korban kekerasan terhadap perempuan yaitu merujuk korban kekerasan kepada organisasi atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sesuai dengan persetujuannnya supaya mendapat pertolongan lebih lanjut.

Bila belum ada hubungan dengan saran tersebut maka dikembangkan suatu jaringan dengan kelompok LSM perempuan baik pemerintah maupun non pemerintah yang menyediakan bantuan bagi korban kekerasan, menyediakan ruangan yang memadai untuk menjaga kerahasiaan di sarana kesehatan dan memasang poster tentang kekerasan terhadap perempuan (KTP).

Selain mengangkat kesadaran mengenai KTP, hal ini dapat membuat korban mau melaporkan kekerasan yang dialaminya, melindungi korban dari pelaku dan dari upaya bunuh diri, melaporkan kekerasan kepada pihak yang berwenang dengan persetujuan korban, kecuali bila terdapat ancaman pembunuhan, ancaman pada anak di bawah umur atau wajib lapor lainnya, menyediakan penanganan medis yang mencukupi termasuk dukungan psikososial, memberikan pelayanan keluarga berencana dan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya sesuai dengan kebutuhan, serta mencegah dampak serius terhadap kesehatan reproduksi korban” ujar Harni Wijiastuti, Seksi Pelayanan Kesehatan P2TP2A.

Halaman
Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved