Gangguan Ginjal Mengintai Anak, Dapat Terbagi Menjadi Dua Bagian
Berdasarkan waktu terjadinya, gangguan ginjal pada anak terbagi menjadi dua, yaitu bawaan sejak lahir dan didapat setelah lahir.
WARTA KOTA, PALMERAH--- Umumnya gangguan ginjal diketahui menyerang orang dewasa, namun kini juga ditemukan pada anak-anak.
"Berdasarkan waktu terjadinya, gangguan ginjal pada anak terbagi menjadi dua, yaitu bawaan sejak lahir dan didapat setelah lahir," kata dr Cut Putri Arianie, MHKes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan, baru-baru ini.
Cut mengatakan, gangguan ginjal bawaan sejak lahir umumnya ditandai dengan adanya kelainan bentuk ginjal dan saluran kemih.
Sedangkan gangguan ginjal yang didapat setelah lahir biasanya ditandai dengan infeksi saluran kemih dan radang ginjal akibat berbagai proses yang bukan infeksi.
Gangguan ginjal pada anak sendiri terbagi dua yaitu gangguan ginjal akut dan kronik.
Gangguan ginjal akut merujuk pada kondisi di mana ginjal anak mengalami kerusakan fungsi secara mendadak.
Penyebabnya adalah penyumbatan sistem penyaringan ginjal oleh sel darah merah yang hancur, trauma luka bakar, dehidrasi, pendarahan, cedera, atau operasi.
Sedangkan gangguan ginjal kronik adalah kondisi penurunan fungsi ginjal anak secara bertahap selama kurun waktu tiga bulan atau lebih.
Anak dengan gangguan ginjal kronik akan mengalami penurunan fungsi penyaringan kotoran, kontrol jumlah air dalam tubuh, serta kadar garam dan kalsium dalam darah.
Akibatnya zat-zat sisa metabolisme yang tidak berguna akan tetap tinggal dan mengendap dalam tubuh anak sehingga lambat laun membahayakan kondisi kesehatannya.
Menurut data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan pada 2017 terdapat 212 anak dari 19 RS di Indonesia yang mengalami gangguan ginjal dan menjalani cuci darah.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Eka Laksmi Hidayati SpA (K), mengaku pernah mendapat pasien gangguan ginjal berusia tiga bulan.
Eka mengatakan, berdasarkan data dari 14 RS pendidikan dengan Konsultan Nefrologi Anak tahun 2017 ada 212 anak mengalami gagal ginjal dan menjalani terapi pengganti ginjal. Angka kematiannya mencapai 23,6 persen.
"Sedangkan insiden gangguan ginjal tahun 2007-2009 di RSCM adalah 150 anak mengalami gangguan ginjal kronik," kata Eka.
Dia menerangkan, penanganan ginjal dengan transplantasi ginjal di RSCM tahun 2017 hingga 2018 adalah 12 pasien, 11 pasien ditangani di RSCM dan 1 di RS Saiful Anwar Malang. Delapan dari living related donor dan empat dari living unrelated donor.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160609wow-ginjal-portabel-untuk-pasien-gagal-ginjal-disiapkan-ilmuwan_20160609_111840.jpg)