Kolom Trias Kuncahyono
Kuda Troya
Pada malam harinya, ketika orang-orang Troya jatuh tertidur karena ngantuk dan mabuk, para prajurit yang bersembunyi di dalam kuda keluar.
Dikatakan, Ia yang mengenali pihak lain (musuh) dan mengenali dirinya sendiri, tidak akan dikalahkan dalam seratus pertempuran. Ia yang tidak mengenali pihak lain (musuh) tetapi mengenali dirinya sendiri, memiliki suatu peluang yang seimbang untuk menang atau kalah. Ia yang tidak mengenal pihak lain (musuh) dan dirinya sendiri cenderung kalah dalam setiap pertempuran.
Di masa sekarang ini, ketika tengah terjadi pertarungan memperebutkan kekuasaan, mengenali musuh sangatlah penting; juga mengenali diri sendiri.
Sebab, bukan mustahil bahwa musuh masuk ke dalam rumah kita bersembunyi di dalam “kuda troya” atau dalam bahasa lain “berbulu domba” (padahal musang)., Bahkan, Daoed Joesoef, dalam artikelnya di harian Kompas,beberapa waktu lalu menggunakan istilah ”musang berbulu ayam. Padahal, masih jauh larut malam.”
Kadang kali sangat sulit membedakan, mana serigala mana domba; mana musang mana serigala; bahkan mana manusia mana serigala.
Oleh karena, tidak jarang yang jahat itu tidak tampil dalam wajah monster yang menakutkan, monster sadistis, tetapi bisa jadi tampil dalam sosok orang, warga negara yang patuh pada aturan, yang lugu, yang seperti tidak berdosa, yang kelihatan bego, tak paham, dan bolak-balik membuat kesalahan.
Daya pikat dan pukau kekuasaan, memang, bisa membuat orang berbuat apa saja untuk mendapatkannya; mampu membuat orang untuk tampil sebagai apa saja demi memperoleh “wahyu” kekuasaan itu. Pesona kekuasaan juga mampu membuat orang demikian cerdik mencari cara bagaimana merebut kekuasaan yang mempesona itu.
Tidak aneh dalam dunia komputer pun dikenal adanya Virus Trojan. Virus ini oleh para hacker digunakan untuk menyusup ke dalam sistem keamanan komputer untuk mencuri informasi.
Di dalam dunia politik, barangkali virus trojan itu, menjelma menjadi penyusup yang berpakaian dan bertopeng aneka rupa dan aneka wajah. Kalau sudah demikian, lawan pun terlihat sebagai kawan. Padahal, dalam politik, tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan yang bisa dikemas dalam berbagai macam bentuk, rupa, dan warna.***
*) Tulisan ini pernah dimuat di Kompas.id Kuda Troya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/kuda-troya.jpg)