Kolom Trias Kuncahyono
Genderuwo-Genderuwo Politik
Yang menarik, masyarakat meyakini bahwa genderuwo ini memiliki sifat cabul, senang menggoda wanita terlebih lagi kepada istri–istri yang kesepian.
Dalam mitologi Jawa terdapat beberapa nama makhluk mitos yang hingga saat ini keberadaanya masih diyakini, seperti genderuwo, tuyul, dan banaspasti.
Genderuwo adalah mahkluk mitos yang ada dalam kepercayaan masyarakat Jawa. Makhluk ini sejenis bangsa jin yang berwujud manusia mirip kera yang bertubuh besar dan kekar dengan warna kulit hitam kemerahan, tubuhnya ditutupi rambut lebat yang tumbuh di sekujur tubuh; seperti yang diarakan sepanjang jalan dalam acara tradisi Saparan di Gamping, Yogyakarta.
Yang menarik, masyarakat meyakini bahwa genderuwo ini memiliki sifat cabul, senang menggoda wanita terlebih lagi kepada istri–istri yang kesepian atau janda.
Genderuwo juga memiliki kemampuan untuk mengubah diri menyamar menjadi manusia dan sifatnya yang iseng serta cabul.
Maka, di desa sering ada orang mengatakan, “Dia itu anak genderuwo.” Dalam wujud apa pun, Genderuwo sangat senang menggoda kaum perempuan mulai dari menepuk, mencolek, mengelus bahkan sampai berhubungan badan berkat kemampuannya menggendam (hipnotis), biasanya menjadi pasangan si wanita yang diincar.
Ada keyakinan dalam kepercayaan Jawa, apabila Genderuwo akan menampakkan diri atau mengisaratkan bahwa dia ada di dekat kita maka mulai tercium bau aneh, seperti singkong bakar atau kentang rebus. Tetapi, ada juga yang mengatakan akan tercium bau kambing.
Oleh karena mitos tentang genderuwo ini hidup di tengah masyarakat, maka tidak aneh kalau cerita tentang genderuwo ini pernah diangkat ke layar lebar.
Film Genderuwo (2007) menceritakan legenda hantu yang menurut cerita adalah hantu terseram, paling ganas, dan terbesar di dunia. Film yang digarap oleh KK Dheeraj dan dibintangi oleh Davina Veronica, Robby Shine, dan Indah Kirana.
Mahkluk Politik
Manusia, menurut Aristoteles (384-332 SM), adalah Zoon Politicon, untuk menyebut mahkluk sosial. Kata Zoon berarti “hewan” dan kata Politicon yang berarti “bermasyarakat”. Secara harfiah Zoon Politicon berarti hewan yang bermasyarakat.
Dengan memberikan sebutan seperti itu, Aristoteles ingin mengatakan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain, sebuah hal yang membedakan manusia dengan hewan.
Sementara filosof, pendidik, ekonom, dan juga wartawan Adam Smith (1723-1790) lebih memilih menggunakan istilah Homo Homini socius, yang berarti manusia sahabat bagi manusia lainnya. Friedrich Nietzsche (1844-1900) menyebut manusia itu sebagai mahkluk komunitas.
Ahli ekonomi politik dan sosiolog Jerman yakni Max Weber (1864-1920) dan ahli politik internasional Hans Joachim Morgenthau (1904-1980), lebih memilih istilah manusia itu adalah mahkluk yang mencari kekuasaan.
Dengan kata lain kekuasaan (politik) dalam arti luas, sebenarnya adalah sebagai ungkapan sifat dasar manusia. Harus diakui, manusia sejati adalah makhluk yang kompleks dan ambivalen, berada di tengah-tengah antara jalan akal budi dan tak berakal budi, antara baik dan jahat, campuran antara egoisme dan kebaikan.
Dengan ambivalensi itu manusia dapat mempergunakan kekuasaan dengan baik atau buruk, baik dalam hal-hal kecil maupun dalam hal-hal besar, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kancah politik (Hans Kung: 2002)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20181018-ilustrasi-bangkrut_20181018_102046.jpg)