Rabu, 20 Mei 2026

Kolom Trias Kuncahyono

Genderuwo-Genderuwo Politik

Yang menarik, masyarakat meyakini bahwa genderuwo ini memiliki sifat cabul, senang menggoda wanita terlebih lagi kepada istri–istri yang kesepian.

Tayang:
Editor: AchmadSubechi
Istimewa
Kontemplasi 

SALAH satu rubrik dalam Majalah Penyebar Semangat yang menarik adalah rubrik “Alaming Lelembut” (Dunia Mahkluk Halus). Di dalam rubrik ini diturunkan cerita-cerita, kisah-kisah tentang dunia mahkluk halus.

Sebenarnya, sungguh aneh. Sebab, majalah ini, yang didirikan oleh dr Sutomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo, 2 September 1933, pada mulanya adalah majalah politik; majalah yang digunakan sebagai media perjuangan.

Oleh karena itu, berita politik memperoleh tempat khusus. Akan tetapi, bagaimana menyiasati agar tetap hidup. Nah, para pengelola majalah ini menemukan resep, yakni membuat rubrik “Alaming Lelembut.”

Bukan hanya Penyebar Semangat yang memiliki rubrik dunia mahkluk halus. Majalah bahasa Jawa lainnya, semisal Djaka Lodang (terbit sejak 1971 di Yogyakarta) memiliki rubrik “Jagating Lelembut” dan Jaya Baya (1945) mempunyai “Cerita Misteri.”

Dunia roh halus, memang,  hidup di dalam masyarakat Jawa (juga masyarakat lain). Dahulu, di masa kecil, ketika masih tinggal di desa, sering diberi pesan atau nasihat yang bernada nakut-nakuti.

“Kamu jangan dekat-dekat ke pohon yang gede dan rindang itu. Pohon itu menjadi rumahnya mahkluk halus, genderuwo.” Dan, sebagai anak, takut juga mendengar pesan itu.

Mitologi Jawa

Mahkluk halus, antara lain genderuwo, hidup dalam mitologi Jawa (barangkali juga dalam mitologi masyarakat non-Jawa juga). Mitos itu hingga kini masih hidup.

Kata mitos berasal dari bahasa Yunani Mythos dan bahasa Belanda mite yang bermakna cerita atau perkataan.

Mitos merupakan cerita masa lampau atau tradisional yang berisi mengenai kehidupan dewa-dewa dan peristiwa gaib yang dianggap benar-benar terjadi oleh orang yang percaya akan mitos tersebut.

Selain itu, mitos juga bisa diartikan sebagai cerita rakyat yang menceritakan kisah masa lampau, penafsiran mengenai alam semesta dan makhluk-makhluk fantastis yang ada di dalamnya.

Mitologi memainkan peranan integral dalam setiap peradaban di seluruh dunia. Lukisan-lukisan pra-sejarah di gua-gua, goresan-goresan di batu, makam, dan monumen-monumen semua itu menjelaskan bahwa jauh sebelum manusia menuliskan mitos dalam kata-kata, mereka telah mengembangkan struktur kepercayaan berkaitan dengan definisi tentang mitos yang diberikan oleh para ahli, misalnya oleh Sir Edmund Ronald Leach (1910-1989) seorang ahli antropologi sosial dari Inggris.

Menurut psikiatris Carl Gustav Jung (1875-1965) dari Swiss, mitos adalah suatu aspek penting dari psyche manusia yang perlu menemukan makna dan keteraturan dalam dunia yang sering menampilkan dirinya kacau dan tidak berarti.

Seorang peneliti mitologi dari Perancis, Roland Barthes (1972), dalam bukunya yang berjudul Mithologies, mendefinisikan mitos sebagai “myth is associated with classical fables about spirits, gods, and heroes” yang kurang lebih berarti, mitos merupakan cerita klasik yang berisi tentang roh, Tuhan/Dewa, dan pahlawan.

Javanolog H.A. Van Hien dalam penelitiannya, De Javaansche geestenwereld… (1896), menyebut 95 jenis makhluk halus di Jawa. Sementara itu, dari hasil penelitiannya di Mojokuto, Jawa Timur pada 1950-an, antropolog Clifford Geertz dalam Abangan, Santri, Priayi dalam Masyarakat Jawa (1983), membagi makhluk halus di Jawa menjadi lima golongan besar: memedi, lelembut, tuyul, demit, dan danyang.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved