Pilpres 2019
Ma'ruf Amin Sebut Budek dan Buta, Andi Arief : Bolot Tidak Termasuk
Ungkapan budek dan buta yang dilontarkan Ma'ruf Amin ketika berada dalam acara di Cempaka Putih, Minggu (11/11/2018) ditanggapi enteng Andi Arief.
UNGKAPAN budek dan buta yang dilontarkan Calon Wakil Presiden nomor urut 1, Ma'ruf Amin ketika berada dalam acara di Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada Minggu (11/11/2018) ditanggapi enteng Andi Arief.
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat itu menyebut komedian Bolot tidak termasuk seseorang yang dimaksud Ma'ruf Amin.
"Komedian ternama Bolot, tidak termasuk kategori yang dimaksud Kyai Ma'ruf Amin," tulis Andi Arief lewat akun twitternya @AndiArief_ pada Senin (12/11/2018).
Andi menyebutkan, pihak pihak oposisi Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang disebut sebagai budek dan buta itu adalah pihak yang tidak mengerti politik bipolar yang tengah digencarkan Jokowi-sapaan Joko Widodo; dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Politik yang dapat memecah belah persatuan.
"Mereka yang buta dan budeg adalah yang tidak mengerti Indonesia terancam konflik besar akibat politik bipolar," tulis Andi.
Rakyat katanya dipecah menjadi dua bagian, kiri dan kanan, terlebih kalangan minoritas yang terperangkap dalam kontestasi Pilpres dan Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun 2019 mendatang.
"Rakyat harus dijelaskan bahayanya ambisi berkuasa Jokowi dan PDIP yang berpotensi meninggalkan semangat persatuan. Jokowi dan PDIP menjebak suara saudara2 kita minoritas dalam perangkap elektoral dg pilkada DKI dan pengaturan Parlemen, UU dan MK pilpres PT (Presidential Treshhold) 20 persen," tulis Andi Arief pada Senin (12/11/2018)
Efek bipolar yang dilakoni PDIP ditunjukkannya pasca-Pilkada DKI Jakarta 2017, PDIP katanya kembali seperti Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pertama kali dilahirkan, yakni pada tanggal 10 Januari 1973.
Kala itu, PDI yang merupakan fusi atau gabungan dari beberapa partai lainnya, antara lain Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Partai Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) serta Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katolik kala itu terbagi dua.
"Setelah Pilkada DKI 2017, PDIP menjadi seperti fusi 1973. Sementara dua kelompok fusi lain Islam dan Nasionalis tengah pecah akibat Pilpres. Gerindra menjadi kekuatan nasionalis kanan. Islam moderat PKB dan Golkar/ Demokrat tetap jadi Tengah yang sedang ditarik2 dalam 2 kubu," jelas Andi.
Berbanding terbalik dengan PDIP, Partai Demokrat katanya berupaya menghindari politik bipolar dengan cara demokratis.
"Soekarno dg Nasakom, Soeharto dengan Fusi. Sayangnya mereka lakukan dengan Paksaan dan akali UU seperti Jokowi yg ngakali Parlemen dan UU serta MK utk politik bipolar," imbuh Andi.
"Kita harus segera hijrah dari negara dengan politik bipolar menjadi negara persatuan," tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, dikutip dari Tribunnews.com, Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding angkat bicara soal kata kiasan yang diucapkan oleh cawapres nomor urut 01, KH Ma'ruf Amin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/amin-sarung_20181018_071934.jpg)