Pilpres 2019

Ma'ruf Amin Sebut Budek dan Buta, Andi Arief : Bolot Tidak Termasuk

Ungkapan budek dan buta yang dilontarkan Ma'ruf Amin ketika berada dalam acara di Cempaka Putih, Minggu (11/11/2018) ditanggapi enteng Andi Arief.

Ma'ruf Amin Sebut Budek dan Buta, Andi Arief : Bolot Tidak Termasuk
Calon Wakil Presiden nomor urut 01, KH Ma'ruf Amin, saat penyampaikan pidato kuliah Umum di Rajaratnam School of Internasional Studies Nanyang Technological University (RSiS NTU), Singapura, Rabu (17/10/2010) (Foto: Tim Media KH Ma'ruf Amin) 

"Setelah Pilkada DKI 2017, PDIP menjadi seperti fusi 1973. Sementara dua kelompok fusi lain Islam dan Nasionalis tengah pecah akibat Pilpres. Gerindra menjadi kekuatan nasionalis kanan. Islam moderat PKB dan Golkar/ Demokrat tetap jadi Tengah yang sedang ditarik2 dalam 2 kubu," jelas Andi.

Berbanding terbalik dengan PDIP, Partai Demokrat katanya berupaya menghindari politik bipolar dengan cara demokratis.

"Soekarno dg Nasakom, Soeharto dengan Fusi. Sayangnya mereka lakukan dengan Paksaan dan akali UU seperti Jokowi yg ngakali Parlemen dan UU serta MK utk politik bipolar," imbuh Andi.

"Kita harus segera hijrah dari negara dengan politik bipolar menjadi negara persatuan," tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dikutip dari Tribunnews.com, Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding angkat bicara soal kata kiasan yang diucapkan oleh cawapres nomor urut 01, KH Ma'ruf Amin.

Menurutnya, Ma'ruf ingin dinilai agar semua pihak, termasuk oposisi, untuk bisa berpikir dan bersikap objektif.

Caranya adalah dengan memberi kiasan tentang seperti orang buta dan budek, yang disampaikannya di dalam sebuah acara di Cempaka Putih, Jakarta, kemarin.

"Artinya, kira-kira, sebesar apapun ketidaksenanganmu pada seseorang, tapi jangan sampai engkau berlaku tidak adil kepadanya," ujar Karding, dalam keterangannya, Minggu (11/11/2018).

Ia menilai pernyataan Ma'ruf soal budek dan buta itu sebenarnya semacam kiasan agar masyarakat mudah mengerti dan memahami.

"Artinya Kiai Ma'ruf mendorong semua pihak termasuk oposisi itu bisa berpikir dan bersikap objektif. Katakan yang ada itu ya ada, yang tidak ada ya tidak ada. Katakan yang benar itu benar dan yang tidak benar ya tidak benar," kata dia.

Pasalnya, selama ini narasi-narasi yang banyak dibangun pihak di luar Jokowi adalah seakan-akan tidak mengakui prestasi Jokowi. (dwi)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved