Koran Warta Kota
Medali Emas Defia Rosminar Dipersembahkan untuk Mendiang Sang Ayah
Defia Rosmaniar langsung bersujud usai diputuskan menjadi peraih medali emas di ajang Asian Games 2018
DEFIA Rosmaniar (23) langsung bersujud usai diputuskan menjadi peraih medali emas nonor Individual Poomsae di cabang olahraga taekwondo di Asian Games 2018, Minggu (19/8).
Ini juga merupakan emas pertama kontingen Indonesia di hari pertama penyelenggaraan Asian Games 2018.
Momen tersebut semakin tidak terlupakan karena kehadiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta Menpora Imam Nahrowi yang menonton langsung di Plenary Hall JCC, GBK, Jakarta Pusat, sejak partai semi final.
Jokowi pun menyamatkan medali emas langsung kepada Defia.
Perjuangan atlet kelahiran Bogor, 20 Mei 1995, tersebut dalam meraih medali emas diperoleh dengan susah payah dan penuh air mata.
Bagaimana tidak, demi baktinya pada Bumi Pertiwi, Defia ditinggal pergi ayah tercinta di sela-sela pemusatan latihan. Bahkan perempuan ini melewatkan momen pemakaman sang ayah.
Defia mulai menekuni taekwondo sejak kelas 1 SMP melalui kegiatan ekstra kulikuler.
"Aku latihan taekwondo dari SMP kelas 1, ikut eksul. awalnya coba-coba saja. Lalu pertama kali tanding langsung juara. Dapat perak. Masuk Pelatnas 2012 berlanjut sampai sekarang," kata Defia saat ditemui di Senayan, Minggu (19/8).
Baca: BREAKING NEWS: Gempa 7.0 SR di Lombok Disertai Suara Gemuruh Dari Longsoran Gunung Rinjani
Baca: Pemuda Asal Serpong Tenggelam ketika Hendak Mengambil Pepaya di Sungai Cisadane
Lima bulan jelang perhelatan Asian Games, ia melakukan latihan di Korea Selatan mulai Maret hingga Agustus. Baru saja seminggu tiba, sang ayah tercinta, Ermanto, dipanggil Yang Maha Kuasa.
"Sebelum Asian Games 2018 ini aku sempat latihan 5 bulan Maret sampai Agustus. Itu sangat capek, perjalanan pulang pergi. Ayah aku meninggal dunia bulan Maret pas aku berangkat ke Korea Selatan untuk latihan. Seminggu aku di sana, Ayah enggak ada," ujarnya.
Anak ketiga dari lima bersaudara itu pun harus rela tak melihat jenazah Ermanto untuk terakhir kalinya. Defia datang beberapa hari setelah proses pemakaman dilakukan.
Sering menangis
Sepeninggal ayahnya, Defia mengaku sering menangis terbawa emosi.
Saat itu, dukungan dari ibundanya, Kaswati, keluarga, pelatih, dan teman terdekat membantu dirinya untuk terus maju meraih impian.
"Aku enggak tahu kenapa sering banget nangis sebelum bertanding. Mungkin karena emosi saja. Saat itu, yang menguatkan saya pelatih, keluarga, teman-teman seperjuangan," ucapnya.
Ia pun melewatkan momen Idul Fitri tahun ini karena sibuk melakukan latihan. Sebelumnya, Defia juga mengaku terkadang harus membatalkan puasa.
"Kadang puasa, kadang enggak. Tergantung materi latihan waktu itu, kalau ringan aku puasa, kalau berat terpaksa enggak," tuturnya.
Hal itu dibenarkan sang pelatih, Manager Tim Taekwondo Indonesia Rahmi Kurnia.
Dia dan Defia terbang ke Korea Selatan pada tanggal 11 Maret 2018 untuk berlatih.
Tepat seminggu setelah tiba di Negeri Ginseng itu, Rahmi menerima kabar bahwa ayahanda Defia dipanggil Yang Maha Kuasa.
Namun karena ketatnya latihan yang dijalaninya, Defia terpaksa melewatkan momen melihat Ermanto untuk terakhir kalinya.
"Ayahnya meninggal Maret saat kami baru sampai Korea Selatan. Dia melewatkan proses pemakaman. Kami baru pulang ke Indonesia tanggal 20 April. Setelah mendatangi makam ayahnya, besoknya kami langsung berangkat lagi," kata Rahmi di Plenary Hall JCC, GBK, Jakarta Pusat, Minggu (19/8).
Defia sangat bersedih kala itu. Kemudian Rahmi mengatakan sesuatu kepada Defia sebagai bentuk motivasi.
"Saat pemakaman, yang saya katakan adalah 'Buat yang terbaik. Jadikan ayahmu bangga terhadap kamu. Semua sakit dan jerih payah akan terbayar. Biarkan indah pada waktunya, di podium kemenangan'," ucapnya.
Baca: Raih Emas, Menpora Janjikan Defia Dapat Bonus Rp 1,5 Miliar
Baca: Terungkap! Ini Dia Bocah Dalam Video Opening Ceremony Asian Games 2018 yang Ekspresinya Viral
Kemarin, sambil terisak, Defia mengungkapkan rasa terima kasih kepada mendiang ayahnya atas semua dukungan yang telah diberikan kepada dirinya.
"Terima kasih Ayah, sudah dukung Defi, (medali emas) ini untuk Ayah," katanya sambil menahan tangis.
Tidak menyangka
Defia mengatakan lawan terberat sebelum dirinya berhasil meraih emas adalah pada saat partai semifinal. Kala itu ia harus berhadapan dengan tunggal putri Korea Selatan, Yun Jihye.
Namun, dukungan dari orang nomor satu Indonesia, Presiden Jokowi, beserta suporter menaikkan kepercayaan dirinya sehingga ia bisa menaklukan Jihye dengan skor 8.520-8.400 poin.
"Enggak nyangka. Karena pas semi final lumayan deg-degan. Yang namanya pertandingan menang kalah itu pasti. Lawannya kan juga dari Korea Selatan. Jadi lawan terberat itu mereka karena taekwondo kan dari sana. Tapi ya sudahlah yang penting aku main berusaha yang terbaik. Setelah semifinal kepercayaan diri semakin meningkat," ungkap Defia.
Rasa bangga Rahmi sebagai manajer semakin meningkat karena Presiden Jokowi sendiri yang menyematkan medali emas kepada Defia.
Ia pun bersyukur karena Defia berhasil mengatasi demam panggung lantaran bermain di kandang sendiri.
"Saya bilang ke anak-anak jangan karena Indonesia jadi tuan rumah malah jadi beban. Mengalir saja seperti biasa, lakukan yang terbaik. Insya Allah hasilnya memuaskan," ungkapnya.
Penampilan stabil
Di final, Defia mengalahkan atlet taekwondo Iran, Marjan Salahshouri, dengan perolehan skor 8690-8470.
Penampilan Defia sangat stabil sejak Pomsae pertama. Bahkan rasa percaya dirinya semakin kuat setelah unggul dari Salahshouri.
Penonton pun bersorak kegirangan saat Salahshouri sedikit melakukan kesalahan yang tentunya memberi keuntungan bagi Defia.
Arena pertandingan makin bergemuruh setelah wasit mengumumkan Defia sebagai peraih medali emas di nomor individual Pomsae.
Presiden Joko Widodo yang juga ikut menyaksikan pertandingan ikut bertepuk tangan dan tertawa lebar melihat kemenangan Defia.
Peraih juara pertama di Kejuaraan Asia itu pun diajak bertemu Jokowi di kursi VVIP.
"Beliau mengucapkan selamat dan berkata kalau beliau bangga," ujar Defia usai laga.
Defia pun menitikkan air mata saat diwawancarai media.
Ia mengaku tidak menduga bisa mengalahkan lawan beratnya Korea Selatan di semifinal yang membawanya bertemu atlet Iran di final.
Korea Selatan memang lawan berat Defia. Setelah berhasil mengalahkan Yun Jihye, rasa percaya dirinya semakin tinggi dan itu terlihat dari gerakan-gerakan Defia di final yang kuat dan bertenaga.
Bonus Rp 1,5 miliar
Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrowi, menjanjikan bonus uang kepada setiap atlet Indonesia yang berhasil meraih medali emas, termasuk atlet taekwondo Indonesia, Defia Rosmaniar yang memenangi nomor kejuaraan Poomsae Putri.
"Kami sudah siapkan bonus, sepeti yang saya sampaikan, satu medali emas seperti tunggal putri ini, Rp 1,5 miliar. Sudah kita siapkan," kata Imam di Plenary Hall JCC, GBK, Jakarta Pusat, Minggu (19/8).
Imam yang turut mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menonton langsung pertandingan Defia mengaharapkan agar Jokowi bisa terus mendukung atlet Indonesia yang berlaga agar menjadi motivasi bagi mereka.
"Saya harap Pak Presiden terus datang di setiap pertandingan untuk menyemangati dan memberikan emas-emas berikutnya bagi seluruh atlet Indonesia," ungkapnya.
Momen tersebut akan terasa lebih spesial bagi para atlet apabila Jokowi sendiri yang langsung menyematkan medali kepada atlet Indonesia yang memenangi pertandingan.
Taekwondo Indonesia hanya ditargetkan meraih 1 emas di Asian Games 2018.
Hasil ini telah memenuhi target Taekwondo Indonesia. Namun, peluang untuk menambah medali emas masih terbuka lebar di nomor Kyorugi. (abs/wik)
Baca selengkapnya di Harian Warta Kota edisi Senin, 20 Agustus 2018
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20180820-headline-warkot_20180820_063816.jpg)