Sabtu, 25 April 2026

Asian Games 2018

Dua Relawan Asian Games 2018 Ingin Menjadi Bagian Sejarah Indonesia

Bertugas sebagai PR menjadi keberuntungan tersendiri bagi keduanya yang mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjajaran.

Penulis: Gisesya Ranggawari |
Warta Kota/Gisessya Ranggawari
Evelyne dan Brenda saat bertugas sebagai translator di media conference Stadion Patriot, Bekasi, Jawa Barat, Senin (20/8/2018). 

Evelyne Valencia (20) dan Brenda Triadwinca (19) mengisi liburan kuliah sebagai mahasiswa  Universitas Padjajaran, Bandung, menjadi relawan atau volunteer Asian Games 2018.

"Karena tertarik saja ikut berpartisipasi di event besar. Ya udah coba aja mumpung lagi libur kuliah, sekalian ngisi liburan dan cari pengalaman juga, dapet temen baru juga. Bonusnya dapet jajan juga," ujar Evelyne.

Keduanya ditempatkan di Stadion Patriot, Bekasi, Jawa Barat, yang ditugaskan sebagai translator di conference room media stadion berkapasitas 30.000 penonton itu.

Kedua gadis itu bertugas menerjemahkan dari bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya.

Baca: Asian Games 2018 - Pimpin Poin di Hari Pertama Sempat Bikin Lindswell Kwok Tidak Fokus

"Awalnya daftar via web, kirim foto full body dan lampirkan SKCK. Setelah itu diemail ada pemberitahuan untuk ikut seleksi psikotes dan FGD, setelah itu baru training," ujar Evelyne.

"Training-nya itu pertamanya general kayak etika, penampilan dan setelah itu training skill komunikasi, sebanyak tiga kali lebih," ucapnya lagi.

Bertugas sebagai Public Relation (PR) menjadi keberuntungan tersendiri bagi keduanya yang merupakan mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjajaran.

Namun, penempatan kedua dara tersebut berdasarkan 'kecelakaan'.

Menurut keduanya, mereka ditugaskan sebagai translator karena di posisi itu sedang dibutuhkan.

"Jadi kalau penempatan itu kesepakatan bersama aja, siapa yang mau di sini atau di sana gitu. Nah aku kebagian sebagai translator di Media dan PR," ucap Evelyne.

Baca: Maruli Tampubolon Sebut Siswi SMA Pahlawan Opening Asian Games 2018

"Sebetulnya bukan kuliah Inggris, aku kuliah di Fikom tapi ya mau gimana lagi kan nggak ada. Ya udahlah gitu," tutunya lagi.

Menurut Evelyne dan Brendabagian dari Asian Games 2018 dianggapnya sebagai bagian dari sejarah Indonesia dan dunia.

Meski sempat dilarang oleh orangtua, keduanya tetap 'memaksa' ingin menjadi bagian sejarah dari event akbar yang terakhir digelar di Indonesia pada tahun 1962 ini.

"Sebenarnya juga sempat dilarang sama orangtua, karena kan kadang pulangnya larut. Ya namanya orangtua khawatir," ucapnya.

"Berhubung aku juga pengen jadi bagian sejarah event besar dan terakhir juga tahun 62  lalu, jadi ya boleh lah," kata Evelyne.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved