Seperti Ini Kronologi Bentrokan Warga dan Suporter Versi NJ Mania
Pada saat berada di sekitar PGC Cililitan, tiba-tiba rombongan mulai diserang.
Penulis: Junianto Hamonangan |
BENTROKAN yang terjadi antara warga dengan NJ Mania, suporter Persitara Jakarta Utara, di Jalan Raya Bogor, Ciracas, Jakarta Timur mengakibatkan satu orang tewas.
Bentrokan terjadi akibat para suporter diserang sekelompok orang saat melintas.
Ketua NJ Mania, Farid mengatakan, saat kejadian ada sekitar 700 orang suporter dengan 18 kendaraan yang berangkat untuk mendukung tim kesayangannya bertanding melawan ABC Wirayudha di Stadion Brigif 1, Kalisari, Jakarta Timur.
Namun, pada saat berada di sekitar PGC Cililitan, tiba-tiba rombongan mulai diserang.
Tidak lama kemudian ketika sampai di Kramat Jati, aksi serupa juga kembali dialami rombongan hingga akhirnya keributan antar kedua belah pihak pecah.
“Masuk ke Kramat Jati, masuk ada bloknya Persija, The Jak di situ, di situ mulai ada pelemparan yang pakai atribut. Itu beberapa kali pelemparan, akhirnya teman-teman turun tuh, keributan mulai di situ,” ungkapnya, Senin (6/8/2018).
Rombongan yang terus bergerak, kembali diserang setibanya di sekitar Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Bahkan, menurut Farid, mereka diserang dari dua arah hingga terkepung dan terlibat bentrokan.
“Iya, dikejar dari Kramat Jati sampai Pasar Rebo, dan pas saya di atas itu, dari bawah arah Cijantung, itu naik ke atas, itu naik motor mereka, turun dan nyerang kita juga. Kebetulan saya pimpin pakai mobil pribadi. Jadi dua arah, kita di-press dari dua arah,” urainya.
Pada saat bentrokan di Pasar Rebo itulah, William Wijaya menjadi korban. Ia mengalami luka sabetan senjata tajam hingga akhirnya meninggal dunia.
“Pas itu (bentrokan) almarhum meninggal, kita kena. Jadi itu almarhum dicolong, kena samping. Mulai dari situ, saya pimpin langsung sampai turun flyover sampai ke Cijantung,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Farid juga ingin memberi klarifikasi perihal kabar NJ Mania membawa senjata tajam. Farid mengklaim tidak ada satupun anggotanya yang melakukan hal itu karena sebelum berangkat sudah menjalani pemeriksaan.
“Kalau senjata tajam itu kebetulan, kita kumpul di titik kumpul, ada di Stadion Tugu dan di situ ada pihak dari Polres Metro Jakarta Utara pengecekan langsung. Di situ safety dan alhamdulillah kita dikasih jalan. Kalau memang ada senjata tajam, pasti kita nggak dikasih jalan,” katanya.
Farid juga menolak kelompoknya dituding telah melakukan penjarahan. Justru Farid mengklaim bahwa apa yang terjadi pada saat itu, adalah akibat bentrokan yang terjadi dan dimanfaatkan oleh sejumlah orang.
“Akhirnya yang dibilang penjarahan segala macem, kenapa? Itu mereka terlibat semua, itu efek. Bukan kami yang melakukan perampasan penjarahan segala macem, itu salah. Makanya saya selalu bilang itu nggak bener,” tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/persitara_20180806_173937.jpg)