Faktor Penentu Kemenangan Asyik Versi Lembaga Survei SPIN
Dalam Pilkada Jawa Barat tahun 2008 dan 2013, Aher selalu diprediksi kalah semua lembaga survei.
SOSOK pasangan Sudrajat-Syaikhu (Asyik) dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Barat dinilai Direktur Survei & Polling Indonesia (SPIN), Igor Dirgantara memiliki empat faktor penentu kemenangan.
Hal pertama adalah sosok dibalik sosok Asyik, yakni Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan atau Aher.
Kedua sosok tersebut menurutnya sangat berpengaruh bagi masyarakat Jawa Barat.
Asumsinya merujuk hasil survei SPIN antara Prabowo Subianto dengan Joko Widodo di Jawa Barat beberapa waktu lalu.
Dalam survei, elektabilitas Prabowo meraup suara sebesar 37,1 persen atau unggul dari Jokowi yang mendapat suara sebesar 30,5 persen.
"Keunggulan Prabowo ini sudah tercermin dalam kemenangannya di Provinsi Jabar sebagai ladang suara saat Pilpres 2014," katanya dalam siaran tertulis pada Jumat (22/6/2018).
Sementara, lanjutnya, kinerja Ahmad Heryawan selama memimpin Jawa Barat dua periode dinilai sukses.
Padahal, kala Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat tahun 2008 dan 2013, Aher selalu diprediksi kalah semua lembaga survei.
"Namun, faktanya justru menang, karena adanya silent voters, yaitu pemilih diam yang sebenarnya sudah menetapkan pilihan, tetapi tidak dinyatakan secara terbuka," ungkapnya.
Tidak hanya itu, pemahaman tentang memilih pemimpin sebagai ibadah yang ditekankan oleh PKS, ditambah efektivitas mesin parpol Gerindra, PKS dan PAN diharapkan bisa menyapu bersih undecided voters dan swing voters pada hari pencoblosan.
"Demonstration effect kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang juga diusung Gerindra-PKS-PAN di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu bertendensi diikuti warga Jabar, terutama di daerah yang berdekatan dengan Jakarta, seperti Depok, Bekasi, dan Bogor," jelasnya.
Faktor kedua, lanjutnya, hanya pasangan Asyik yang mentautkan kemenangannya di Pilkada Jawa Barat 2018 dengan kemenangan Prabowo Subianto di Pilpres tahun 2019 mendatang.
Bahkan, pasangan Asyik berani membentangkan kaos ganti presiden saat acara debat Cagub Jabar.
"Sedangkan paslon lainnya terbagi dan diusung oleh parpol pendukung pemerintah yang ingin mempertahankan status quo penguasa sekarang ini," terang dia.
Faktor lainnya merujuk pada kontroversi pelantikan Komjen Iriawan sebagai Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Jabar yang menimbulkan polemik dan kecurigaan publik, terkait netralitas dalam Pilkada 2018.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/debat_20180515_064023.jpg)