Waktu Berjalan Kaki Idealnya Tidak Lebih Tujuh Menit Menuju Pergantian Moda
BPTJ terus mendorong pihak swasta untuk ikut mendukung realisasi kawasan transit terpadu.
WARTA KOTA, PALMERAH---Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) terus mendorong pihak swasta untuk ikut mendukung realisasi kawasan transit terpadu (transit oriented devolepment/TOD) di lingkungan Jabodetabek.
Bambang Prihartono, Kepala BPTJ, mengatakan, pemerintah memiliki keterbatasan terutama dalam hal pendanaan untuk merealisasikan program TOD di Jabodetabek.
Baca: Mungkinkah ERP dan TOD Jadi Solusi Mengatasi Kemacetan Jakarta
"Sehingga peran swasta menjadi sangat penting," kata Bambang baru-baru ini.
Menurut Bambang, sudah tidak masanya lagi pengembangan kawasan hunian mengandalkan angkutan pribadi bagi mobilitas para penghuninya, sebaliknya sudah harusnya semua pengembangan kawasan berbasis TOD.
Selama ini banyak pengembangan kawasan hunian yang tidak didukung oleh sistem jaringan transpoetasi publik sehingga menimbulkan kesemrautan lalu lintas.
Kawasan yang dibangun dengan konsep TOD setidaknya mensyaratkan beberapa hal di antaranya adalah tersedianya sistem transportasi berbasis angkutan umum massal untuk mobilitas para penggunanya.
Baca: TOD Dukuh Atas Rampung pada 2020
Termasuk dalam hal ini adalah tersedianya pedestrian atau jalur sepeda yang memadai bagi warga dari hunian mereka menuju moda transportasi atau dari satu moda ke moda lain.
"Waktu berjalan kaki idealnya tak lebih dari tujuh menit menuju pergantian moda," kata Bambang.
Baca: Rancangan TOD Dukuh Atas Tunggu Masukan Masyarakat, Anies: Kami Undang Warga Jakarta
Selain itu, suatu kawasan TOD harus dibangun sedemikian rupa sehingga mengintegrasikan simpul aktifitas warga baik permukiman, area komersial, perkantoran dan area layanan publik.
Integrasi ini dilakukan dengan berbasis moda angkutan umum massal.
Dalam dua tahun ke depan BPTJ menargetkan pembangunan empat kawasan transit terpadu di kawasan Jabodetabek, yaitu Terminal Poris Plawad (Tangerang), Baranangsiang (Bogor), Jatijajar (Depok), serta Pondok Cabe (Tangerang Selatan).
Pembangunan kawasan TOD tersebut nantinya direncanakan sepenuhnya menggunakan pembiayaan swasta.
Baca: Senin Besok, Gedung TOD Bandara Soekarno-Hatta Soft Opening
Perkembangan terkini untuk Termina Poris Plawad sedang dalam proses tender, menyusul Baranangsiang yang sedang dalam proses kajian desain.
Sementara Pondok Cabe dan Jatijajar masih dalam proses pemindahan asset.
Selain rencana membangun kawasan transit terpadu, langkah-langkah BPTJ dalam mewujudkan TOD di lingkungan Jabodetabek adalah memberikan rekomendasi teknis kepada para pengembang yang sedang membangun di kawasan Jabodetabek agar menerapkan prinsip TOD.
Kontan.co.id/Dina Mirayanti Hutauruk
Berita ini sudah diunggah di Kontan.co.id dengan judul Pemerintah Dorong Peran Swasta Dalam Pengembangan TOD di Jabodetabek
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20180225-gedung-tod-bandara-soetta_20180225_124022.jpg)