HKTI Minta Pemerintah Ubah Inpres No 5/2015 agar Petani Sejahtera
Adanya jaminan harga di atas BPP juga akan membuat petani jadi lebih bergairah dengan profesinya sebagai petani.
Menurut Fadli Zon, ini produk kebijakan IMF 20 tahun lalu yang memaksa liberalisasi dan melucuti peran negara.
“Saya menduga, rendahnya daya serap Bulog atas gabah petani selama ini adalah karena belenggu Inpres No. 5/2015 tadi. Tahun ini, misalnya, Bulog hanya menargetkan penyerapan gabah petani sebesar 2,7 juta ton," katanya.
Padahal realisasi penyerapan gabah tahun 2015 dan 2016 saja angkanya mencapai 2,6 dan 2,9 juta ton.
Gudang Bulog itu isinya kosong melompong, karena mereka tak bisa menyerap gabah petani.
"Itu sebabnya, HKTI meminta agar Pemerintah segera mencabut Inpres No. 5/2015. Ganti konsep HPP dengan konsep ‘floor price’ (harga dasar)," katanya.
HKTI mengusulkan agar harga dasar gabah ditetapkan di angka 120 persen dari Biaya Pokok Produksi.
Dengan kebijakan ini, petani dipastikan untung 20 persen jika menjual gabahnya ke Bulog.
Di sisi lain, gudang Bulog juga dipastikan tak akan banyak menganggur, cadangan pangan kita bisa penuh karena Bulog jadi bisa menyerap maksimal gabah petani.
“Saat harga gabah naik melebihi Harga Dasar, Bulog diberikan instrumen Harga Pasar, di mana Bulog diberikan keleluasaan untuk membeli gabah hingga batas maksimal tertentu, misalnya Rp 5.500/kg," katanya.
Dengan demikian, Bulog masih bisa bersaing membeli gabah petani saat harganya naik di atas harga dasar.
Dua instrumen ini, Harga Dasar dan Harga Pasar, akan membuat Bulog jadi lebih lincah sebagai lembaga pengelola pangan.
“Adanya jaminan harga di atas BPP juga akan membuat petani jadi lebih bergairah dengan profesinya, sehingga dalam jangka panjang produktivitas sektor pertanian kita diharapkan akan meningkat," katanya.
Sebelum Inpres No. 5/2015 dicabut oleh pemerintah, HKTI tetap meminta kepada Bulog untuk segera turun ke sentra-sentra produksi padi yang sedang panen raya dan membeli gabah petani pada harga HPP.
"Sebab, saya mendapat informasi dari sejumlah pengurus HKTI di daerah, bahwa di beberapa daerah di Jawa Timur yang sedang panen, harga gabah ada yang anjlok di bawah Rp 3.700. Bulog harus mengambil inisiatif, tak boleh hanya berdiam diri saja," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/unjuk-rasa-petani-kendeng_20170904_193807.jpg)