PT Pos Indonesia Kembangkan Kantor untuk Hotel, Co-Working, dan Co-Living
“Walaupun sudah dibangun hotel, fungsi kantor pos tetap ada di lokasi tersebut. Karena itu jadi ikon. Walaupun kecil, kantor pos tetap diperlukan.."
Penulis: | Editor: Fred Mahatma TIS
WARTA KOTA, GAMBIR --- PT Pos Indonesia terus berbenah mengatisipasi perkembangan zaman. Bisnis utama dan yang pertama PT Pos Indonesia di era sebelumnya dari surat menyurat, kini terus mundur.
Surat menyurat sudah sangat ditinggalkan masyarakat sejak era digital. Padahal PT Pos Indonesia yang didirikan tahun 1746 memiliki jaringan 4.800 kantor secara keseluruhan dan 58.700 titik layanan yang tersebar di seluruh Indonesia.
“PT Pos Indonesia sudah berdiri sejak 272 tahun lalu, punya 4.700 properti. Sejak dulu terutama zaman Orde Baru tambah cabang terus. Pasti di 0 kilometer setiap propinsi ada kantor Pos dan lokasinya strategis. Semua kecamatan pasti terlayani,” ujar Kepala Regional 4 Jakarta PT Pos Indonesia Pupung Purnama di acara persemian mitra kerjasama PT Pos Indonesia dan bersamaan dengan peluncuran EV Hive@Pos Indonesia di kantor Pos Indonesia, Rabu (31/1/2018).
Lokasi kantor yang strategis tersebut, kini dioptimalisasi untuk mencari sumber kontribusi baru bagi PT Pos Indonesia. Sejak Desember 2013, dibentuk PT Pos Properti Indonesia sebagai anak perusahaan PT Pos Indonesia. Anak perusahaan ini untuk mengelola properti Pos Indonesia.
“Kami beruntung, nilai aset properti milik PT Pos Indonesia banyak di pusat kota. Kalau ada alun-alun pasti ada kantor pos. Tidak hanya kantor, tapi juga rumah dinas bisa dimanfaatkan. Sehingga mempermudah kami untuk menjadikan komersialisasi,” ujar Direktur Utama PT Pos Properti Indonesia Handriana Tjatur Setijowati di kesempatan yang sama.
Ia menjelaskan, sudah mulai banyak investor yang ingin mengembangkan aset-aset PT Pos Indonesia karena lokasinya yang strategis. Kantor Pos Indonesia yang berada di Jalan Lapangan Banteng Timur punya luas 3,4 hektar. Pemanfaatan lahan milik PT Pos Indonesia bisa untuk hotel, co-working, co-living (semacam rusun), serta disewakan untuk keperluan komersil kepada restoran modern.
PT Pos menyediakan tanahnya, investor yang membangun gedungnya. Setelah itu bagi hasil. Setijowati memberikan contoh di Bandung, juga sedang penjajakan untuk membangun hotel begitu juga di kota-kota kecil lain. Apalagi pariwisata sedang booming sehingga kebutuhan hotel juga turut naik.
“Walaupun sudah dibangun hotel, fungsi kantor pos tetap ada di lokasi tersebut. Karena itu jadi ikon. Walaupun kecil, kantor pos tetap diperlukan, tetap ada kirim barang, untuk pembayaran pensiun, dan lainnya. Fungsi kantor pos tetap ada,” tegasnya.
Ia mengaku mulai tahun ini proaktif mencari investor untuk menawarkan aset lahan di PT Pos Indonesia. Sayangnya Setijowati masih enggan menyebutkan nilai kontribusi yang didapatkan. Alasannya masih kecil.
“Masih kecil sekitar 5 persen dari pendapatan. PR (Pekerjaan Rumah, Red) besar kami untuk terus mengejar investasi. Kontribusinya memang masih kecil karena baru mulai tahun ini kami proaktif menawarkan sekian aset,” ujarnya lagi.
Kendati masih kecil namun dari segi pertumbuhan cukup signifikan, dibandingkan tahun lalu ada pertumbuhan 40 persen.
Sasar Milenial
Setijowati mengatakan, secara keseluruhan, pemasukan PT Pos Indonesia tidak turun. Tapi bisnis surat menyurat yang turun. Padahal itu dulu bisnis utama. Sehingga diversifikasi produk harus dilakukan. Terlebih tuntutan masyarakat juga berkembang. Walau bisnis surat menyurat turun, namun di sisi logistik terjadi peningkatan. Namun, hal itu belum membuat PT Pos Indonesia berpuas diri.
Bisnis lain coba dilirik, yakni properti. Mengingat lokasinya yang strategis. Selain itu menurut Setijowati, PT Pos Indonesia juga perlu ‘memudakan’ konsumennya dengan memenuhi kebutuhan generasi muda terutama milenial.
Properti yang dimiliki PT Pos Indonesia selain bisa ditawarkan untuk pergudangan, renovasi kantor, bisnis, tidak lupa juga membidik co-working dan co-living yang sedang ngehits di kalangan milenial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20180201-pos-indonesia_20180201_024601.jpg)