PT KAI Terima Kredit Rp 28,6 Triliun Bangun LRT
PT Kereta Api Indonesia menandatangani kontrak pinjaman terbesar yang dibuat sepanjang sejarah perkeretaapian, sebesar Rp 18,1 triliun.
WARTA KOTA, PALMERAH-Menyusul penandatanganan perjanjian tiga pihak dengan Kementerian Perhubungan dan Adhi Karya mengenai tata cara pembayaran yang menjadi dasar hukum pembayaran atas pembangunan prasarana LRT Jabodebek pada Jumat (22/12) lalu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menandatangani kontrak pinjaman terbesar yang dibuat Perseroan sepanjang sejarah perkeretaapian.
Penandatanganan kontrak pinjaman sebesar Rp 18,1 triliun untuk Kredit Investasi dan Rp 1,15 triliun untuk Kredit Modal Kerja dengan jangka waktu pinjaman selama 18 tahun itu dihadiri oleh jajaran Menko Maritim, Menteri Keuangan, Menteri Perhubungan, Direktur Utama PT KAI serta Direktur Utama Bank Sindikasi itu digelar di Kempinski Grand Ballroom Grand Indonesia Shopping Town, West Mall, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Jumat (29/12/2017.
Penandatangan perjanjian fasilitas kredit tersebut diungkapkan Direktur Utama KAI, Edi Sukmoro bekerjasama dengan 12 Bank Sindikasi baik Himbara, bank swasta nasional dan swasta asing yang diwakili oleh JMLAB.
Sindikasi bank itu terdiri dari Bank Mandiri, BNI, BRI, BCA, CIMB Niaga dan PT SMI. Selain itu, sejumlah bank lain yang bertindak sebagai kreditur, di antaranya Bank DKI, BTMU, Hana Bank, Shinhan Bank Indonesia, Bank Sumut dan Bank Mega.
"Total komitmen pembiayaan dari seluruh Bank Sindikasi sebesar Rp 28,6 triliun telah melampaui kebutuhan pinjaman yang diperlukan KAI atau oversubscribed sebesar 1,5 kali. Rincian komitmen pembiayaan dari JMLAB sebesar Rp 24 triliun, sedangkan dari kreditur di luar JMLAB sebesar Rp 4,6 triliun," jelasnya kepada wartawan pada Jumat (29/12/2017).
Penandatanganan tersebut lanjutnya, merupakan bentuk dedikasi KAI dalam mendukung tersedianya infrastruktur di Indonesia.
Lebih lanjut, bagi KAI, penandatanganan ini dilakukan agar KAI dapat segera menggarap penugasan Presiden Republik Indonesia, sehingga target operasional LRT Jabodebek pada 2019 mendatang dapat tercapai.
"Setelah ini kita semua tentu berharap proses pengerjaan proyek ini lancar dan dapat memenuhi target operasionalnya pada 2019 nanti," ujarnya.
Sementara itu, pada sisi perbankan nasional, penandatanganan ini juga menunjukkan adanya harmonisasi di antara perbankan Himbara, swasta lokal, dan swasta asing.
"Keterlibatan perbankan asing menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya sekedar penugasan dari Pemerintah, namun juga menunjukkan bahwa proyek ini secara komersial dinilai feasible dan bankable," imbuhnya menambah.
Sementara itu, pemerintah pusat yang diwakili oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Pandjaitan menyambut baik penandatanganan kontrak pinjaman antara KAI dengan 12 Bank Sindikasi terkait kerjasama pembangunan proyek LRT Jabodebek.
"Ini adalah suatu kemajuan yang sangat signifikan, oleh karena baru pertama kalinya suatu proyek pemerintah bisa ditangani secara sindikasi," ujar Luhut.
Luhut pun menambahkan, lewat pinjaman sebesar Rp 19,25 triliun serta jangka waktu kontrak selama 18 tahun, menurutnya adalah angka yang besar, dan bisa dijadikan model pendanaan proyek pemerintah lainnya di masa depan.
"Sekarang tidak harus membebani APBN, model pendanaan seperti ini akan kita refinancing setelah berjalan 3-4 tahun ke depan. Nanti mungkin dengan bunga lebih murah kita bisa kembangkan LRT ini dengan trayek yang lebih luas," tambahnya.
Menko Luhut, secara khusus juga mengapresiasi kerja keras yang telah dilakukan oleh berbagai pihak terkait, lintas Kementerian dan BUMN.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/pt-kai_20171229_143129.jpg)