Kamis, 14 Mei 2026

Saat Lagu Batak 'Sinanggar Tulo' Dilantunkan, 600 Warga Spanyol Larut Gembira Sambil Menari

Begitu dua penyanyi Mataniari menyanyikan lagu tersebut ... 600-an penonton yang seluruhnya warga Spanyol sontak larut dalam kegembiraan.

Tayang:
via Antaranews.com
Musik Indonesia di Spanyol -- Kelompok musik uning-uningan Batak Toba, Mataniari, saat menampilkan sejumlah lagu dan tarian Batak di depan masyarakat Candas, Spanyol, Minggu (18/12/2017). Kedatangan kelompok musik Batak ini menjadi bentuk diplomasi dan promosi budaya Indonesia kepada masyarakat Spanyol. (ANTARA/Ahmad Wijaya) 

Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Madrid Adi Priyanto yang turut menyaksikan konser kolaborasi itu pun menyatakan keterkejutannya atas dikenalnya lagu Sinanggar Tulo.

Dia mengatakan, adanya perpaduan musik Batak dan Spanyol itu dinilai strategis, baik untuk saat ini maupun jangka panjang, sehingga budaya dan pariwisata Indonesia bisa dikenal masyarakat Eropa umumnya.

Misi seperti ini memang sangat tepat dan efektif untuk lebih memperkenalkan potensi kekayaan budaya Indonesia yang kaya dan beragam, sehingga kelanjutannya sangat ditunggu agar publik Spanyol terus teringat.

Apalagi wisatawan Spanyol yang berkunjung ke Indonesia selama ini jumlahnya belum terlalu banyak. Sepanjang tahun 2017 baru sebanyak 67 ribu orang.

Menurut penelusuran Warta Kota, lagu Batak lain yang sangat mendunia dan kerap dibawakan oleh banyak kelompok  paduan suara di berbagai belahan dunia adalah  Sik Sik Sibatumanikam.

Tertarik Mataniari
Kedatangan kelompok musik uning-uningan Batak Toba, Mataniari, Spanyol kali ini merupakan undangan OCAS yang sebelumnya telah saling mengenal saat melakukan konser di Dabau Toba dan Jakarta pada 27 Juli-16 Agustus 2017 .

Dari hasil kunjungan ke Indonesia tersebut tampaknya OCAS merasa cocok dan tertarik atas kelompok musik Batak itu.

Usai Mataniari tampil pada acara Festival Europalia Indonesia 2017 di Den Haag, Belanda dan Brussels, Belgia, mereka langsung bertolak ke Spanyol.

Pada kegiatan yang bertajuk "Simfonico Indonesia" ini, Mataniari mengisi seminar di Universitas Oviedo bersama dengan maestro jazz Indonesia, Adra Karim.

Setelah itu, kelompok yang dibentuk oleh Irwansyah Harahap dan Rithaony Hutajulu ini tampil pada konser di sejumlah pusat budaya dan gedung pertunjukan ternama di Asturias.

Sedangkan konser pada 16 Desember 2017 di Niemeyer Auditorium menjadi acara yang spesial karena Mataniari dan Adra Karim berkerja sama dengan kelompok musik OCAS di depan ratusan penonton warga Spanyol.

Di samping konser karya-karya musik orkestra yang bersatu dengan musik gondang Batak serta nyanyian Opera Batak, Mataniari juga tampil bersama dengan para pengungsi Sahara dalam suatu konser musik mini pada tanggal 17 Desember 2017.

Untuk lebih memperkenalkan lagu 'Sinanggar Tulo' dan budaya Batak serta budaya Indonesia umumnya, Mataniari juga tampil dalam konser tunggal sebanyak empat kali pada tanggal 17, 18, 19, dan 20 Desember 2017 di empat kota yang berada di sekitar Asturias yaitu Candas, Siero, La Felguera dan Leon.

Dengan tampil di kota-kota tersebut, semakin banyak masyarakat yang berkesempatan menyaksikan secara langsung pertunjukan musik tradisional Batak yang dimainkan Mataniari.

Hal ini adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu karena sangat jarang ada grup musik tradisional Batak dari Indonesia yang hadir di kota-kota tersebut.

Sumber:
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved