Sekolah Gunung BNPB Cetak Masyarakat Tangguh Bencana
Pemerintah melalui BNPB mendirikan sekolah yang khusus bertujuan memberdayakan masyarakat tangguh bencana di daerahnya masing-masing.
WARTA KOTA, MAGELANG --- Indonesia termasuk negara dengan potensi bencana terbesar, mulai dari gempa, erupsi gunung berapi, tanah longsor, banjir dan lainnya.
Maka dari itu pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendirikan sekolah yang khusus bertujuan memberdayakan masyarakat tangguh bencana.
Sekolah tersebut disesuaikan dengan tempat tinggal masing-masing. Jika di daerah pegunungan (hulu) maka dinamai 'Sekolah Gunung', di tengah 'Sekolah Sungai', dan di hilir disebut 'Sekolah Laut'.
Baca: Nuklir Korut Akan Berdampak ke Indonesia. Ini Antisipasinya
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto, mengungkapkan, setiap tahun jumlah kejadian bencana di Indonesia meningkat. Sebanyak 90 persen merupakan bencana hidrometeorologi, atau bencana yang terkait air dan cuaca seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan, longsor, angin kencang, dan gelombang pasang.
"Januari-Oktober 2017 ini saja sudah tercatat bencana sebanyak 884 kejadian di seluruh wilayah Indonesia. Di Kabupaten Magelang sendiri ada 256 kejadian hingga saat ini, tahun lalu 109 kejadian," ungkap Edy Susanto saat membuka program 'Sekolah Gunung' di Kecamatan Mungkid, Magelang, Kamis (12/10/2017).
Edy memaparkan, sekolah ini merupakan upaya pemberdayaan sekaligus peningkatan kesadaran masyarakat tentang bencana, khususnya di wilayah masing-masing. Masyarakat diberi materi tentang kebencanaan, mengenal tanda-tanda bencana, dan mengantisipasi agar tidak menimbulkan korban.
Baca: Korut Akan Balas AS dengan Guyuran Hujan Api
"Harapannya mereka jadi tangguh. Mereka mengenali, mengelola, mengurangi risiko bencana. Contohnya, kalau di gunung potensinya longsor, maka mereka akan paham tanda-tandanya, ketika tanah retak. Kalau hujan cek ke atas, bagaimana mereka evakuasi diri dan sebagainya," jelas Edy.
Meningkat
Edy mengakui kesadaran mitigasi bencana masyarakat Kabupaten Magelang terus meningkat. Dahulu, katanya, warga sulit dievakuasi jika terjadi bencana. Namun sejak erupsi Merapi 2010, warga mulai sadar dan bersedia dievakuasi.
"Bahkan sekarang warga minta dilatih mitigasi bencana. Komunitas relawan juga tumbuh berkembang, tercatat ada 5.000 orang relawan di Magelang. Karena wilayah ini rawan bencana, longsor, puting beliung, banjir dan ancaman terbesar erupsi Gunung Merapi," jelasnya.
Baca: Nyusul AS, Israel Nyatakan Keluar dari UNESCO
Sekolah Gunung Magelang ini diikuti oleh sekitar 30 dari total 50 komunitas yang tersebar di seluruh pelosok Kabupaten Magelang, mulai dari Gunung Merapi, Sumbing, Menoreh, hingga Merbabu. Perwakilan komunitas itu akan memberikan materi serupa kepada anggota komunitas masing-masing.
Baca juga: Tiga Personel Brimob Tewas Tertembak di Lokasi Pengeboran Minyak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20171013-sekolah-gunung_20171013_100645.jpg)