Jumat, 1 Mei 2026

Awas Gunung Agung

Mengungsi Saat Malam, Ibu Muda Ini Kehilangan Janin Berumur 25 Minggu

Ni Luh Sekar Dwipayani (17) terbaring lemah di Ruang Melati, RSUD Buleleng, Senin (25/9/2017) siang.

Tayang:
TRIBUN BALI/Ratu Ayu Astri Desiani
Ni Luh Sekar Dwipayani bersama suaminya, I Kadek Witama, saat ditemui di ruang Melati RSUD Buleleng, Senin (25/9/2017) siang. 

WARTA KOTA, BALI - Ni Luh Sekar Dwipayani (17) terbaring lemah di Ruang Melati, RSUD Buleleng, Senin (25/9/2017) siang.

Ia harus menunggu keputusan dari pihak medis, kapan sekiranya tindakan untuk mengeluarkan jasad janin yang ada di dalam kandungannya dapat dilakukan.

Sekar merupakan salah satu pengungsi akibat meningkatnya aktivitas Gunung Agung asal Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali.

Baca: Gibran Rakabuming: Tokoh Muda Seperti Mas Agus Harus Tampil

Janin yang masih berusia 25 minggu di dalam kandungannya ini dinyatakan meninggal sejak Minggu (24/9/2017) siang.

I Kadek Witama (18), suami Sekar menceritakan, kala itu istrinya mengaku tidak merasakan keluhan sakit pada perutnya.

Istrinya mulai curiga saat tidak merasakan adanya gerakan dari dalam kandungannya, seperti hari-hari biasanya.

Baca: Kadiv Humas Polri: Jangan Terlalu Mudah Memencet-mencet

Khawatir sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, Sekar pun langsung memeriksakan kondisi kehamilannya pada seorang petugas kesehatan yang berjaga-jaga di tempat pengungsiannya, di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng.

"Sampai di pos kesehatan, petugas medis tidak menemukan adanya gerakan jantung pada janin, kemudian istri saya langsung dirujuk ke Puskesmas Tejakula I. Setelah di Puskesmas Tejakula I, kembali dirujuk ke RSUD Buleleng," ungkap Witama saat ditemui di RSUD Buleleng.

Diakui Witama, selama mengandung, sang istri sejatinya tidak pernah melakukan aktivitas yang berat. Pasutri muda yang baru saja menikah sekitar satu bulan ini, juga mengaku jarang menempati tempat pengungsian di Desa Les, Buleleng.

Baca: Golkar Berharap Pujian Arief Poyuono Ditularkan ke Semua Kader Partai Gerindra

"Kami mengungsi kalau sudah malam. Kalau pagi sampai siang kami pulang lagi ke desa," ujar Witama.

Kini, pasutri yang menggantungkan nasib dari hasil tani ini hanya bisa ikhlas kehilangan anak pertamanya.

Mereka hanya bisa menunggu keputusan dari pihak medis, kapan sekiranya jasad janin yang ada di kandungan Sekar dapat dikeluarkan.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved