Kamis, 14 Mei 2026

Yuk, Berwisata Sejarah di Ereveld

Ancol Taman Impian mengukuhkan diri sebagai tempat rekreasi berbasis edukasi. Di wahana seluas 552 hektar ini pengunjung bisa berlibur, menyantap kuli

Tayang:
Acep Nazmudin
Tak ada kesan seram di pemakaman bersejarah ini yang lokasinya di kawasan Ancol Taman Impian, Jakarta Utara, Selasa (13/6). Lahan ini pun dijadikan obyek wisata baru. 

“Ereveld menjadi pemakaman pertama yang didirikan oleh Dinas Pemakaman Tentara Belanda, selain di sini dibangun juga di tempat lain, seperti di Menteng Pulo, Leuwigajah, Cimahi dan Surabaya,” kata Dicky kepada Warta Kota, Selasa (13/6).

Di sebelah kanan monumen tampak sebuah pohon tua yang disebut pohon surga (Ailanthus Excelsia).

Menurut keterangan, dahulu banyak tawanan yang dieksekusi oleh Tentara Jepang di bawah pohon ini. Kini di pohon yang diawetkan itu dipasang sebuah papan yang bertuliskan puisi karya Laurence Benyon berjudul “For the Fallen”.

Tidak seperti pemakaman umumnya di Indonesia, tidak ada gundukan tanah di makam Ereveld. Sebagai penanda jika itu makam, ditancapkan nisan berupa salib untuk korban beragama Kristen, kubah masjid bagi muslim dan salib dengan kotak segi lima untuk jasad korban yang tidak dikenal dan disatukan dalam satu liang.

Sekitar 1.456 nisan berwarna putih berjajar rapih di hamparan rumput berwarna hijau, tidak ada kesan mistis saat berada di sini, yang ada pandangan kita akan dimanjakan oleh penataan makam yang moderen.

Dicky menerangkan, semua korban yang dimakamkan di sini, dieksekusi mati oleh tentara Jepang saat menduduki Indonesia pada periode 1942-1945.

“Korban bukan hanya yang dieksekusi di pesisir Ancol saja, tapi juga pindahan dari Banjarmasin, Makassar, Pontianak dan Mandor (Kalimantan Barat),” kata dia.

Satu di antara “penghuni” makam Ereveld Ancol adalah Dr Achmad Mochtar, Warga Negara Indonesia yang merupakan salah satu Pendiri Lembaga Eijkman.

Mochtar dieksekusi oleh Jepang setelah dituduh menewaskan tawanan romusha dengan suntik vaksin tetanus.

Makam muchtar tidak tunggal, namun disatukan dengan dalam makam massal dan tertulis nama Prof Dr A Mochtar di nisannya.

Di Indonesia total ada sekitar 25.000 korban perang Hindia Belanda, baik militer maupun warga sipil.

Sebelumnya para korban dimakamkan di 22 makam kehormatan Belanda yang tersebar di seluruh Kepulauan Indonesia yang dibangun antara Tahun 1946 dan 1950 oleh Dinas Pemakaman Tentara Milik Belanda.

Atas permohonan Presiden Soekarno, setelah penyerahan kedaulatan pada 1960-an, seluruh makam dikumpulkan di Pulau Jawa saja dan Ereveld menjadi salah satunya. (m7)

Sumber: WartaKota
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved