Kolom

Indonesia Punya Siapa

Tentu, tak satu pihak mana pun berhak menepuk dada sebagai paling berdarah Merah Putih.

Istimewa
Suasana di Muktamar Muhammadiyah setelah Haedar Nashir terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. 

Oleh Dr H Haedar Nashir MSi ‎

Ketua Umum PP Muhammadiyah‎

Siapa sesungguhnya pemilik Indonesia? Di negeri ini, tentu tak satu pihak mana pun berhak menepuk dada sebagai paling berdarah Merah Putih.

Mengklaim diri sebagai pewaris dan penjaga utama Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, dan UUD 1945.

Indonesia milik semua untuk semua.‎ Sangat gegabah jika ada orang menyatakan, bahwa Indonesia belum teruji kebinekaannya jika minoritas belum menjadi seorang presiden.

Lebih-lebih ketika ujaran itu diungkapkan dengan nada angkuh, seolah ukuran keindonesiaan ialah kedigdayaan diri dalam singgasana kuasa.

Sebuah kesombongan yang dapat menjadi duri tajam di tubuh negeri ini.‎

Manakala ada segelintir orang ingin menguasai Indonesia dengan hasrat kuasa berlebih.

Ingatlah pesan Bung Karno, "Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!"

Jangan ada pihak yang ambisius untuk memiliki Indonesia dengan nafsu chauvisnis.‎

Bercerminlah pada jiwa kenegarawanan para pendiri bangsa.

Tatkala Ki Bagus Hadikusumo, menyampaikan gagasan Islam sebagai dasar negara pada sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Peraiapan Kemerdekaan (BPUPK), Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah ini dengan tegas menyatakan bahwa dirinya adalah "seorang bangsa Indonesia tulen" dan "sebagai Muslim yang mempunyai cita-cita Indonesia Raya dan merdeka".‎

Umat Islam meski mayoritas dan kuat keyakinan keagamaaanya, sungguh mencitai dan menjadi tonggak penyangga keindonesiaan yang setia.

Umat juga sangat toleran dan menjunjungtinggi kebhinekaan. Keislamannya tidak oposisi biner dengan keindonesiaan dan kemajemukan bangsa, bahkan menjadi perekat utama. Islam menjadi kekuatan integrasi nasional, ujar Prof Dr Koentjaraningrat.‎

Merupakan suatu ironi dan melukai hati manakala umat Islam dianggap sebagai golongan eksklusif, yang hanya mementingkan urusannya sendiri. Keislaman juga bukan tidak berseberangan dengan keindonesiaan.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved