Operasi Simpatik
Rambu Jalan Tak Maksimal Jadi Kendala Operasi Simpatik
“Kendaraan harus berhenti di belakang garis stop. Jika berhenti di depan garis, itu masuk dalam kategori pelanggaran,” ujar seorang petugas
Penulis: Feryanto Hadi |
Di Jakarta Timur sendiri, beberapa titik yang rawan pelanggaran dan kecelakaan ada di beberapa titik.
Seperti di perempatan Pasar Rebo dan Jalan Raya Bekasi, yang juga dinilainya minim dengan rambu.
"Untuk dikawasan itu, kami akan lebih tingkatkan lagi kesadaran pengendara dengan menggelar Operasi Simpatik," ungkap Sutimin.
Sementara itu, pengendara sepeda motor bernama Wisnu Wardana (30) menilai kehadiran polisi lalu lintas di jalanan Jakarta sangat dibutuhkan.
Namun, ia meminta aparat kepolisian tidak hanya melakukan penindakan namun lebih penting memberikan edukasi kepada pengguna sepeda motor.
“Di jalanan Jakarta macetnya minta ampun. Sementara terkadang di persimpangan tidak ada petugas kepolisian yang mengatur lalu lintas. Karena selama ini pengendara itu melihat sosok polisi yang menakutkan, jadi ketika tidak ada polisi mereka kembali melanggar. Paradigma seperti ini yang harusnya mulai dirubah,” jelasnya.
Ia pun mengapresiasi kepolisian lalu lintas yang dalam Operasi Simpatik ini cenderung memberikan edukasi dan imbauan kepada pengendara lalu lintas.
Dengan pendekatan yang persuasive seperti ini, ia berharap ke depan masyarakat sadar akan pentingny tertib lalu lintas.
“Karena kemacetan juga sering terjadi karena pengendara tidak tertib lalu lintas. Menumbuhkan kesadaran berlalu lintas memang bukan pekerjaan mudah, namun akan berhasil jika dilakukan secara terus-menerus,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20170302rambu-jalan-tak-maksimal-jadi-kendala-operasi-simpatik1_20170302_200329.jpg)