Kolom Iwan Santosa
Kisah PETA dan Angkatan Laut Jerman di Jawa
Sebagian besar personil AL Jerman yang tersisa, menurut sejarawan Didi Kwartanada, ditahan Sekutu di Kepulauan Seribu sebelum dipulangkan ke Eropa.
Hewel adalah sosok yang menyalin gagasan Hitler yang dibukukan dalam Mein Kampf – Perjuanganku.
Ketika Perang Berakhir, Geerken menerangkan, sejumlah awak U-Boot dan juga orang Jerman lainnya seperti Rosenow, Komandan pertama KRI Dewaruci, terlibat aktif dalam perjuangan Indonesia.
“Mereka melatih mantan anggota PETA di Akademi Militer Jogjakarta dan juga memasok peralatan perang seperti topi baja (helm Fritz), botol minum, sangkur, senapan Karbine dan lain-lain,” kata Geerken.
Perlengkapan militer Jerman memang dikenal di Jawa. Setidaknya dalam buku Tjamboek Berduri dan peringatan 6 Bulan Indonesia Merdeka yang diterbitkan Harian Merdeka dan dicetak ulang Gallery Foto Antara, terlihat gambar petugas Pertahanan Kota (Staadswacht) sebelum Jepang mendarat di Jawa tahun 1942 dan pejuang pemuda Tionghoa Surabaya dalam pertempuran 10 November 1945, mengenakan helm Fritz.
Geerken menerangkan, sejumlah mantan veteran TNI seperti almarhum KSAL Laksamana R.E. Martadinata mengakui saat Revolusi Fisik diajar sejumlah instruktur militer mantan Angkatan Laut Jerman.
Demikian pula diketahui ada beberapa personil AL Jerman yang berperang bagi pihak Indonesia dan gugur dalam pertempuran.
Sebagian besar personil AL Jerman yang tersisa, menurut sejarawan Didi Kwartanada, ditahan Sekutu di Kepulauan Seribu sebelum dipulangkan ke Eropa.
Setelah Jerman menyerah, Mei 1945, ada dua U-Boot di Batavia yang diambil alih Jepang. Namun, secara keseluruhan tidak diketahui pasti berapa banyak personil AL Jerman yang bergabung ke pihak Republik Indonesia.
Bobot kesalahan ideologis personil AL Jerman di mata Sekutu tidaklah berat. Kebanyakan anggota AL Jerman adalah kelompok beragama yang Anti-Nazi.
Perlakuan Sekutu terhadap mereka berbeda tidak seperti anggota SS – Schutzstaffel yang fanatik Nazi dan banyak diadili atas kejahatan perang.
Keluarga Helfferich kemudian mendirikan tugu peringatan bagi Skuadron Asia Timur AL Jerman di komplek perkebunan mereka di Cikopo.
Selain itu terdapat pula enam makam pelaut Jerman di sekitar monumen yang bagi masyarakat Sunda disebut Arca Domas.
Geoffrey Bennet mencatat, setiap tahun pertengahan bulan November pada Volkstrauertag – Hari Peringatan Korban Perang – Kedubes Jerman selalu mengadakan upacara mengenang jasa para Pelaut AL Jerman yang berperang di Nusantara untuk Tanah Airnya dan kemudian sebagian juga terlibat dalam perjuangan Republik Indonesia yang baru merdeka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/peta_20170116_221422.jpg)