Selasa, 19 Mei 2026

Kolom Iwan Santosa

Kisah PETA dan Angkatan Laut Jerman di Jawa

Sebagian besar personil AL Jerman yang tersisa, menurut sejarawan Didi Kwartanada, ditahan Sekutu di Kepulauan Seribu sebelum dipulangkan ke Eropa.

Tayang:
Editor: AchmadSubechi
Ist
Pembela Tanah Air (PETA). 

Pada bulan September, Pulau Morotai sudah direbut Sekutu yang sebelumnya menguasai kembali Papua dari Hollandia – kini Jayapura – hingga daerah Vogel Kop atau Kepala Burung di Manokwari, Sausapor dan Sorong.

Akhirnya, batas kesabaran para milisi PETA pun mencapai akhir. Pada tanggal 14 Februari 1945, dipimpin Supriyadi, Detasemen PETA memberontak menguasai Blitar.

Mereka menyerbu gudang senjata dan membunuh beberapa serdadu Jepang. Sayang perlawanan itu berhasil diisolir Jepang.

Sebanyak 68 prajurit PETA diajukan ke Mahkamah Militer dan delapan orang diantaranya dihukum mati. Mereka dieksekusi di Komplek Eereveld Ancol, Batavia tanggal 16 Mei 1945.

Jepang memang takut menghadapi perlawanan PETA dan negeri yang diduduki karena selanjutnya, bulan Maret 1945, pasukan bentukan Jepang di Birma bangkit melawan mereka.

Pasukan Birma di bawah pimpinan Aung San – ayah Aung San Su Kyii – bergabung bersama Sekutu mengambil-alih Birma.

Angkatan Laut Jerman

Semasa pendudukan Jepang, Henri Horst Geerken mencatat sekurangnya lebih dari 50 kali misi pengiriman U-Boot AL Jerman – Kriegsmarine – ke Pulau Jawa.

Selain itu, terdapat pula puluhan pesawat ampibi AL Jerman berpangkalan di Surabaya.

Sejarawan Didi Kwartanada mengatakan, pangkalan kapal selam Jerman terbesar terdapat di Penang, Malaya selain pangkalan di Batavia dan Surabaya.

Tokoh di balik aktivitas Jerman di Hindia-Belanda adalah kakak-beradik Emil dan Theodore Helferrich yang memilki kebun teh yang lokasinya kini di dekat gerbang Tol Gadog, Bogor.

Geoffrey Bennet penulis The Pepper Trader mengisahkan sepak-terjang keluarga Helferrich dalam membangun bisnis dan menyiapkan jejaring bagi Kriegsmarine dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Adapun Henri Geerken menambahkan fakta pada tahun-tahun di antara PD I dan PD II, Karl Donitz komandan satuan U-Boot Jerman pernah bertemu dengan Helferrich di Surabaya.

Helferrich bersaudara menyediakan fasilitas istirahat bagi para awak U-Boot yang sandar di Batavia.

Penguasa Jerman Nazi kala itu, Adolf Hitler sangat memahami makna strategis Hindia-Belanda melalui salah satu penasehat utamanya yakni Walter Hewel yang pernah bermukim di Jawa Barat tahun 1926-1935.

Sumber: KOMPAS
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved