Ayo Makan Bersama Keluarga di Rumah

Ayo kita bangun kebiasaan makan bersama keluarga di rumah. Banyak lho, manfaatnya.

Penulis: |
Kompas.com
Ilustrasi 

WARTA KOTA, PALMERAH-Kesibukan orangtua dan anak-anak membuat kesempatan untuk makan bersama keluarga di rumah semakin ‘langka’. Begitu langkanya, makan bersama menunggu momen istimewa seperti ulangtahun, atau perayaan khusus.

Padahal, makan bersama anggota keluarga tidak sekedar menghabiskan makanan bersama. Ada banyak nilai, ikatan emosional anggota keluarga yang turut menghilang dengan menghilangnya kebiasaan ini. Jadi kapan anda makan bersama keluarga di rumah?

Presenter dan bintang iklan Mona Ratuliu (34) masih ingat, saat kecil, hampir tiap malam ia bisa makan bersama keluarga. Ayahnya rutin pulang kerja sekitar pukul 17.00. Pukul 19.00 seluruh anggota keluarga sudah bisa makan bersama. Namun, kebiasaan positif saat kecil itu sulit untuk diterapkan kepada keluarganya kini. Baik ia dan suaminya punya kesibukan yang padat.

Tidak hanya orangtuanya, anak-anaknya pun tak kalah sibuk. Makan siang dilakukan di sekolah. Pulang sekolah sampai sore, lanjut les. Saat malam hari, anak sibuk mengerjakan pekerjaan rumah. Sementara orangtuanya juga berjibaku dengan kemacetan ibukota. Pagi hari juga hampir sama. Segala kerusuhan menyiapkan berangkat ke sekolah atau bekerja membuat makan bersama di pagi hari juga sulit dilakukan. Patah arang? Tentu saja tidak.

“Setiap weekend kita akan usahakan untuk makan bersama. Di luar weekend pun sebisa mungkin kita lakukan makan bersama. Minimal 2-3 hari dalam seminggu kita usahakan makan bersama,” kata Mona yang menjadi pembawa acara di peluncuran kampanye “Meja Makan Punya Cerita” dari Tupperware Indonesia, di Gedung South Quarter, Jumat (20/5).

Psikolog anak dan keluarga Ajeng Raviando mengatakan, kesibukan yang padat dimana, kedua orangtua bekerja di luar rumah, agenda anak yang padat menjadi salah satu faktor utama hilangnya tradisi makan di rumah. “Bukannya tidak ingin makan bersama di rumah. Tapi jadi susah karena didera macet. Bisa sampai rumah jam 9 malam. Dulu yang bekerja bapaknya saja tapi sekarang ibunya juga. Ibunya bisa pulang lebih cepat, bapaknya belum pulang. Hal-hal iniIah yang membuat susah kumpul bareng makan,” kata Ajeng di kesempatan yang sama.

Hilangnya kumpul bareng makan bersama ini sayangnya membawa pengaruh buruk buat perkembangan hubungan antar anggota keluarga. Bersantap di meja makan menjadi ajang komunikasi antar anggota keluarga. Karena bersantap di rumah lebih santai ketimbang di ruang public (restoran) sehingga komunikasi lebih erat dan mampu mengekspresikan pikiran.

“Komunikasi di meja makan itu simpel tapi menyenangkan. Hal-hal lucu yang tidak terpikirkan saat ditelepon akan muncul saat di meja makan. Daripada via telepon terasa diintograsi,” ujar Ajeng. Kebersamaan yang menyenangkan ini ditambah lagi adanya sentuhan dan belajar etiket makan.

“Di saat makan bersama akan muncul the power of touch (kekuatan sentuhan). Membuat kuat ikatan antar anggota keluarga. Di meja makan saling bertatapan, saling mengungkapkan perasaan. Momen itu akan berkesan,” tegas psikolog cantik yang punya dua anak abege ini. Memberi pelajaran etiket makan juga bisa diajarkan tanpa menggurui. Karena anak melihat contoh langsung cara makan yang benar dan baik dari kedua orangtuanya.

“Ibu bisa minta tolong ambilkan garpu atau sendok ke bapak atau anak atau cara duduk dan cara makan tanpa menggurui,” ujarnya.

Ajeng khawatir, bila tradisi bersantap di rumah menghilang, orangtua tidak punya kesempatan menanamkan nilai-nilai yang akan diangkat dalam sebuah keluarga. Sehingga yang terjadi seperti sekarang, yakni generasi yang acuh.

Tampilan

Begitu pentingnya makan bersama di rumah, menjadikan kegiatan ini harus diusahakan sedemikian rupa. Bila kesibukan orangtua dan anak saat hari biasa (weekday), membuat makan bersama sulit dilakukan. Saat weekend atau liburan harus dimanfaatkan untuk makan bersama. “Pokoknya kalau ada kesempatan makan di rumah. Cerita-cerita dari anak-anak itu loh yang bikin kangen,” kata Ajeng memberikan contoh dirinya makan bersama keluarga. Setiap pekan diusahakan makan bersama. Sedikitnya satu kali dalam seminggu. Walaupun cuma sekali, buat lebih istimewa dengan masak bersama, dan membuat tampilan yang cantik. Secantik makan di restoran.

Hilangnya kebiasaan makan bersama di rumah ini mendorong Tupperware Indonesia meluncurkan kampanye “Meja Makan Punya Cerita”. Product Manager Tupperware Indonesia Edwin Jonathans mengatakan, fenomena makan bersama ini jangan sampai ditinggalkan. Mengingat ada value (nilai) penting di meja makan.

Agar masyarakat menghidupkan kembali tradisi berkumpul di meja makan dan bersantap di rumah, diadakan beberapa program. Diharapkan keluarga terinspirasi dan memulai lagi untuk mengusahakan kebiasaan makan bersama. Program yang dilancarkan lewat media sosial (facebook, twitter, instagram, dan lainnya) dengan mengajak masyarakat untuk memposting foto dan cerita seru di meja makan saat bersantap di rumah dengan keluarga. Tentu saja sesuai kampanye dengan menyertakan hastag #mejamakanpunyacerita.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved