Citizen Journalism

Politik Opera Sabun

Kita memerlukan revolusi dalam bidang politik. Perlu ada perubahan fundamental dalam tubuh partai politik kita.

Warta Kota/Nur Ichsan.
Lokasi Luar Batang yang sudah diratakan dengan tanah, ada apartemen terlihat di balik reruntuhan permukiman warga Luar Batang. 

PBB memperkirakan jumlah penduduk dunia tahun 2020 mencapai 8 milliar, sementara jumlah penduduk ideal menurut para ahli dalam kisah The Lugano Report hendaknya tidak lebih dari 4 miliar.

Pilkada DKI Jakarta sudah mulai semarak meski belum ada satu pun calon yang secara resmi mendaftar ke KPUD. Yang jelas petahana Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok akan maju dengan jalur independen.

Selain itu, ada sejumlah tokoh penantang, seperti Yusril Ihza Mahendra, Sandiaga Uno, Ahmad Dhani, Abraham Lunggana, Desy Ratnasari, Djarot Saiful Hidayat, Tri Risma Harini, dan M Sanusi.

Tapi tragis, Sanusi kena operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Berawal dari kasus Sanusi terkait raperda tentang reklamasi “perang” terjadi lebih cepat daripada yang dijadwalkan. Hampir setiap hari “perang” terjadi di media sosial antara kelompok petahana versus penantang.

Melihat perdebatan di media konvensional dan sosial, masih seputar isu-isu yang bersifat teknis, belum menukik pada idiologi.

Bahkan, partai yang mengklaim idiologis pun belum bersuara. Idealnya, para konsultan politik di balik para kandidat harus berani membuat kontras dalam kampanye kelak.

Kalau Ahok jelas berpihak pada kaum pemodal lewat kebijakan reklamasi pantai utara.

Maka para penantang Ahok harus berani melakukan kampanye keberpihakan pada kaum miskin dan lemah, yang hanya pasrah digusur karena tak mampu mengakali status tanah ilegal untuk dilegalkan, tiadanya fulus dan akal bulus.

Tidak ada makan siang gratis dalam dunia politik. Semua pihak memiliki kepentingan, yang kelihatan mulia dan penuh pengabdian, tapi politik tidak pernah transparan.

Begitulah realitas politik menjelang pilkada DKI, ia seperti sebuah panggung sandiwara yang artifisial tapi romantis. Namun di balik sandiwara yang kelihatan romantis ini terjadi suatu brutalitas bukan buatan.

Sebab sandiwara politik tersebut pada akhirnya hanyalah sandiwara yang berkenaan dengan perebutan kekuasaan. Mau apa, memang kodrat politik pada hakikatnya brutal.

Kita memerlukan revolusi dalam bidang politik. Perlu ada perubahan fundamental dalam tubuh partai politik kita.

Partai harus memiliki idiologi dan garis perjuangan yang jelas, tidak cuma retorika alias politik opera sabun.

Politik menggoda dan memungkinkan orang untuk merebut kekuasaan, mempertahankan dan memperbesarnya, tak mau lagi melepaskannya, lalu mau tinggal di dalamnya selama mungkin.

Apa yang harus diperjuangkan oleh kekuasaan, yakni kepentingan rakyat dan negara, itu semuanya tiba-tiba terlupakan dan lenyap ketika proses politik sedang berada dalam perebutan kekuasaan.

Benny Sabdo,
Peneliti Respublica Political Institute

Sumber: WartaKota
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved