Gerbang Kudus Kota Kretek Mirip Daun Tembakau
Apalagi bangunan yang didirikan dengan biaya Rp 16 miliar tersebut menyerupai daun tembakau.
Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Suprapto
WARTA KOTA, KUDUS-- Puji Lestari (32) tiba-tiba menepikan sepeda motor Yamaha Mio miliknya di pinggir Jalan Raya Demak-Kudus, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Rabu (27/4) malam.
Dengan tergesa-gesa, dia lalu mengajak anaknya Ika Zulianto (6) turun dari motor.
Laju kendaraannya terhenti, karena mereka terperangah melihat lampu sorot berkelap-kelip di bangunan yang ada di tengah jalan itu.
Saat ditelisik bukan hanya sorotan lampu saja yang menarik hatinya, tapi bangunan setinggi 12 meter itu juga membuatnya terkejut.
"Bangunannya tinggi banget yak nak, kayak gedung kantoran di Jakarta," ujar Puji kepada anaknya. Mendengar pernyataan ibunya, sang anak hanya bisa mengangguk dan mengamini ucapannya. "Iya bu," ujar Zulianto.
Selain Puji, ada juga warga lainnya yang melakukan hal serupa. Siti Sutiasi (36) warga Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus ini juga terkejut dengan bangunan itu. Apalagi bangunan yang didirikan dengan biaya Rp 16 miliar tersebut menyerupai daun tembakau.
"Bentuknya unik seperti daun tembakau di perkebunan. Seharusnya dari dulu ada bangunan seperti ini di Kudus," kata Siti.
Sebagai warga asli Kudus, Siti mengaku bangga dengan kehadiran bangunan ini. Menurutnya, bangunan yang didirikan oleh PT Djarum itu mempertegas bahwa Kudus merupakan daerah industri rokok kretek di Indonesia. Oleh karena itu, bangunan tersebut dinamakan Gerbang Kudus Kota Kretek (GKKK).
Siti mengungkapkan sebelum dibangun GKKK, di sana terdapat sebuah gapura berbentuk menara. Hanya saja menara itu terbuat dari tumpukan bata merah berundak, sehingga tidak menekankan bahwa Kudus merupakan daerah industri kretek. "Kalau begini, semua orang bisa tahu bahwa Kudus itu kota kretek," ujar Siti.
Siti mengatakan, tiap akhir pekan GKKK selalu dikerumuni oleh masyarakat sekitar maupun daerah sekitar, seperti Kabupaten Demak dan Kota Semarang. Mereka ke sana, hendak selfie atau groufie dengan latarbelakang bangunan GKKK. "Dari pagi sampai sore selalu ramai, saya merasa bangga dengan kehadiran gerbang ini," kata Siti.
Senior Manager Public Affairs PT Djarum, Purwono Nugroho mengatakan, awalnya pembangunan ini dimulai 2 Januari 2014 lalu. Namun karena ada kendala di lapangan, maka peletakan baru pertama dilaksanakan pada 22 April 2014. Adapun proyek ini selesai 1,5 tahun kemudian atau pada 12 Juli 2015.
"Apabila dirinci, biaya total pembangunan monumen yang difasilitasi PT Djarum ini sebesar Rp 16.125.000.000," ujar Purwono.
Menurut dia, monumen ini sengaja dibangun di pintu gerbang Kabupaten Kudus yang berbatasan dengan Kabupaten Demak karena bakal diproyeksikan menjadi ikon Kota Kretek. Tak hanya itu, monumen ini diharapkan mampu menjadi magnet para wisatawan ke Kudus.
"Dengan bangunan gerbang yang futuristik, Kudus diharapkan bisa mengokohkan diri sebagai Kota Kretek. Karena, selama ini jargon tersebut memicu perdebatan di sejumlah kota lain di Indonesia, yang memiliki industri rokok besar," kata Purwono.
Dia mengungkapkan, bangunan GKKK ini memiliki filosofi dalam setiap unsur bangunannya. Bagian atas yang berbentuk daun tembakau dengan jumlah jari-jari sebanyak 59 ruas memiliki makna tersirat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160501-gerbang-kudus-kota-kretek_20160501_095331.jpg)