Kamis, 9 April 2026

Mahasiswa Tewas di Danau UI

Penjaga Kos Akseyna Sebulan Sekali Diperiksa Polisi

Edi Sukardi (43) penjaga kos Wisma Widya di Gang Usman, Kukusan, Beji, Depok, mengaku sangat lelah karena sangat sering dipanggil polisi

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Suprapto
Tribunnews.com
Akseyna Ahad Dori semasa hidup 

WARTA KOTA, DEPOK— Edi Sukardi (43) penjaga kos Wisma Widya di Gang Usman, Kukusan, Beji, Depok, mengaku sangat lelah karena sangat sering dipanggil polisi untuk diperiksa terkait kematian Aksena Ahad Dori (18), mahasiswa Biologi Fakultas MIPA Universitas Indonesia yang ditemukan tewas mengambang di Danau Kenanga UI, Kamis (26/3/2015), setahun lalu.

Menurut Edi, sudah lebih dari 30 an kali ia dipanggi penyidik atas kasus ini. Bukan hanya dirinya, tetapi juga istrinya Maryamah.

Sebab kata Edi secara terbuka penyidik dan keluarga Aksena Ahad Dori (18), mencurigai dan menuding bahwa dirinyalah pelaku pembunuhan Akseyna alias Ace.

Sebelum ditemukan tewas, Akseyna menyewa rumah kos Wisma Widya yang dikelola Edi bersama istrinya, Maryamah.

"Kalau awal-awal kasus ini ada, saya sering dipanggil gak apa-apa. Tapi setelah lama, saya dipanggil terus jadi saksi tapi yang lainnya tidak," kata Edi saat dikonfirmasi Warta Kota, Rabu (2/3/2016).

Menurutnya sampai kini, minimal sebulan sekali ia harus memenuhi panggilan polisi atas kasus ini. "Capek juga sih mas. Minimal sebulan sekali dipanggil. Terakhir ya Selasa 23 Februari kemarin," katanya.

Edi mengatakan dari sejumlah saksi dirinyalah yang paling sering dipanggil polisi.

Menurut jika dirinya habis ditemui oleh sejumlah rekannya, atau bahkan wartawan, tak lama ia pasti dipanggil untuk kembali diperiksa polisi.

"Terakhir ya Selasa 23 Februari itu. Sebelumnya saya habis cerita sama Pak Kiyai. Eh, besoknya dipanggil polisi," kata Edi.

Bahkan menurutnya dalam pemeriksaan dirinya, belum lama ini, ia dipertemukan oleh penyidik dengan ayah Akseyna, Kolonel (Sus) Mardoto.

"Katanya keterangan saya dikonfrontir dengan keterangan ayah Akseyna. Dari sana saya dituduh oleh ayah Akseyna dan penyidik sebagai pelaku pembunuh Akseyna," kata Edi.

Edi mengaku langsung membantahnya. Bahkan ia mengaku menantang penyidik dan ayah Akseyna untuk melakukan sumpah pocong guna membuktikan bahwa bukan dirinyalah pembunuh Akseyna.

"Saya tantang mereka supaya sumpah pocong saja. Kalau saya bohong maka saya yang kena, tapi kalau saya benar, maka yang menuduh sayalah yang kena," kata Edi.

Menurut Edi, saat itu penyidik kepolisian tetap mencurigainya dan bahkan mengatakan sikap orang yang salah adalah seperti yang dilakukannya.

"Penyidik bilang, semua orang yang salah selalu membantah dan ngajak sumpah pocong seperti yang saya katakan. Lalu saya bilang, saya nggak mau sekedar sumpah di atas Al-quran. Tapi sumpah pocong saja, kalau saya yang berbuat, besok atau seminggu kemudian pasti mati. Tapi kalau enggak, yang nuduh yang mati," kata Edi.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved