Citizen Journalism
Mendidik Karakter Ilmiah Anak Indonesia
Perbincangan di televisi dalam rangka membahas kasus/peristiwa yang terjadi pun akhirnya hanya terhenti pada batas wacana atau opini
WARTA KOTA, PALMERAH - Kasus pembunuhan Mirna akibat racun sianida, kemudian peristiwa pemukulan oleh anggota DPR, dan aneka peristiwa lainnya di Indonesia, mengakibatkan masyarakat diombang-ambingkan oleh berbagai pendapat/opini, yang akhirnya jawabannya juga melahirkan opini.
Terlebih, kasus Mirna. Penetapan Jessica sebagai tersangka disinyalir masih berdasarkan sebatas asumsi/opini.
Kira-kira apakah aparat kepolisian dapat membuktikan kasus yang fakta-faktanya hanya bersumber dari asumi/opini?
Lalu, peristiwa dan peristiwa lain lahir, kemudian juga dibahas di berbagai media dan stasiun televisi yang menghadirkan pakar atau tokoh.
Perbincangan di televisi dalam rangka membahas kasus/peristiwa yang terjadi pun akhirnya hanya terhenti pada batas wacana atau opini bukan melahirkan solusi.
Miris, sekarang, di Indonesia penuh drama yang bernama opini akibat adanya berbagai kasus.
Sampai kapan, model pergulatan opini dan opini terus menjadi berita dan tontonan yang dikonsumsi bukan hanya kalangan remaja, dewasa, dan orangtua, tapi juga dibaca dan ditonton oleh anak-anak Indonesia.
Apakah bangsa ini akan melahirkan bangsa opini? Karena semua itu tak ubahnya semacam budaya sekelas doktrin yang dapat mendarah daging dan terekam oleh anak-anak Indonesia seperti halnya doktrin radikalisme?
Hingga anak-anak Indonesia akan terbiasa dengan opini, pendapat, yang jauh dari sikap ilmiah? Di mana akhir dari pembelajaran pendagogik anak Indonesia? Apakah aspek kognisi akan terpenuhi?
Apa yang sekarang terjadi, sebenarnya juga imbas dari perkembangan teknologi yang membawa dampak positif dan negatif.
Semakin mudahnya mengakses informasi secara online, membuat masyarakat umumnya, dan khususnya pelajar dan mahasiswa, hingga anak-anak usia dini menjadi malas membaca koran, majalah, dan buku konvensional.
Sayangnya, apa yang sekarang sering menjadi tontonan dan yang mudah diakses adalah peristiwa-peristiwa dramatis yang melahirkan polemik publik.
Sementara, bukan rahasia lagi, bahwa informasi dalam bentuk online, lebih banyak tidak akurat dan jauh dari segi ketepatan data/fakta ilmiah.
Namun, nyatanya, media sosial, lebih menarik dari koran, majalah, dan buku. Anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga orang dewasa, kini lebih tertarik dengan komputer, ponsel dan gadget dll.
Yang lebih parah, kehadiran akses online ini, mengakibatkan anak-anak TK dan SD, pelajar SMP dan SMA, mahasiswa, dan orang dewasa selain malas membaca koran, majalah, atau buku, juga malas ke toko buku, malas ke perpustakaan, dan justru lebih senang hangout bersama teman-temannya, foto selfie dan memosting di media sosial.