Konsultasi
Begini Mengatasi Konflik Relasi Segitiga
Dinamika yang berkembang dalam relasi segitiga yang terbentuk di antara anggota keluarga tertentu berpengaruh terhadap ketidaknyamanan
Oleh Agustine Dwiputri
Dinamika yang berkembang dalam relasi segitiga yang terbentuk di antara anggota keluarga tertentu berpengaruh terhadap ketidaknyamanan perasaan setiap individu yang terlibat, karena kadar konflik yang tercipta akan mengalami peningkatan yang tidak terkendali.
Danti (58) datang mengeluhkan tentang anak lelakinya bernama T (34) yang berpacaran dengan gadis N (29) dari suku lain dengan keyakinan yang juga berbeda.
Mereka berpacaran sudah lebih dari tiga tahun. Danti dan suami berpendapat bahwa T tidak akan berbahagia jika menikah dengan N.
Adapun T tidak peduli dengan pendapat ibunya dan terus melanjutkan hubungan dengan N.
Tentu saja Danti ternyata tidak sekadar mencemaskan masa depan T apabila menikah dengan N, tetapi di antara kecemasannya tersebut juga tersirat kemarahan yang tertahan.
Ternyata, T sebagai anak kedua dalam keluarga dinilai kurang berprestasi dan ”agak lemah” dibandingkan dengan kakaknya.
Walaupun sudah memiliki gelar sarjana, T masih bergantung secara finansial pada keluarga dan beberapa kali pindah kerja dan tidak jelas kariernya.
Untuk itu, Danti benar-benar berupaya agar paling tidak T memutuskan hubungan dengan N.
Kondisi yang ”runyam” tersebut membuat Danti terpuruk dalam pola relasi lama yang ditandai oleh sering menyalahkan lingkungan, marah-marah tidak keruan, dan kemudian mengurung diri di dalam kamar beberapa saat.
Terkadang Danti menyalahkan N, terkadang T, untuk kemudian menjaga jarak dengan anak dan calon menantunya dengan cara tidak menegur sapa keduanya.
Ungkapan terhadap T adalah sebagai berikut: ”Kamu sebenarnya adalah anak yang berontak pada orangtua, dengan cara menentukan pilihan pasangan yang salah.”
Dan apabila T kemudian memihak kepada N, reaksi Danti adalah menjaga jarak dengan T dan serta-merta ia akan mendekati suaminya untuk membicarakan kejelekan-kejelekan perangai calon menantu.
Padahal, sebenarnya ayah T tidak terlalu peduli dengan siapa pun T mau menikah. Terciptalah relasi segitiga, ”Danti, T, dan N”.
”Outsider”
Dalam situasi relasi segitiga tertentu, Danti mengatakan bahwa dia menjadi outsider. Sebaliknya, apabila Danti menjelekkan diri N, maka Danti akan bergabung dengan T, yang membuat N menempati posisi sebagai outsider.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160130begini-mengatasi-konflik-relasi-segitiga_20160130_101936.jpg)