Citizen Journalism
Ibu, Guru, dan Era Globalisasi
Sosok orang tua dan guru tidak bisa lepas dari kehidupan kita, karena mereka berdua sangat berjasa di dalam mengantarkan kita untuk menggapai sukses
WARTA KOTA, PALMERAH - Sosok orang tua dan guru tidak bisa lepas dari kehidupan kita, karena mereka berdua sangat berjasa di dalam mengantarkan kita untuk menggapai kesuksesan.
Ibu dan guru adalah 2 sosok manusia yang paling visioner di dunia ini.
Mereka selalu berpikir dan mengeluarkan segenap potensinya untuk saat ini dan masa yang akan datang.
Globalisasi hanya membutuhkan manusia-manusia yang mampu berpikir dan bertindak secara visioner.
Keduanya punya harapan yang sangat besar, bedanya ibu berharap kepada anak-anaknya sedangkan guru berharap kepada semua anak didiknya tanpa memandang anak siapa pun.
Karena sebagai seorang ibu dan seorang guru pasti menyadari benar bahwa setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini pasti mempunyai potensi.
Tinggal bagaimana seorang ibu dan seorang guru memberikan stimulasi kepada anaknya dan peserta didiknya agar potensi bagi anak dan peserta didiknya muncul dan berkembang sesuai dengan harapan.
Sejatinya seorang ibu adalah guru yang paling pertama dan utama di dalam rumah tangga, sedangkan guru hanya membantu ibu dalam mengembangkan potensi yang ada pada diri anak.
Tidak ada sebutan “bodoh” atau “bebal” bagi seorang anak, karena setiap manusia yang dilahirkan membawa potensi atau kemampuan untuk dikembangkan, yang berarti kemampuan manusia akan sangat berbeda-beda. sebagaimana seorang ibu yang memperlakukan anak-anaknya dan menyadari benar setiap anak punya karakteristik yang tersendiri, begitu juga dengan seorang guru sejatinya menyadari benar bahwa memberikan penilaian kepada peserta didik tidak hanya di satu sisi saja, tapi tiga sisi: kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor.
Kaitannya dengan era globalisasi, seorang ibu dan seorang guru yang visioner tentunya sudah bersiap diri dengan adanya perubahan-perubahan yang akan terjadi, terutama di dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), dimana kita akan berkompetisi dengan negara luar dalam berbagai bidang kehidupan.
Tentunya kita juga berharap kepada pemerintah sudahkah mempunyai persiapan ke arah sana.
Jangan sampai pemerintah memberikan peluang kepada rakyat dari negara luar untuk berkembang tetapi tidak untuk rakyatnya sendiri terutama dalam hal ekonomi dan pendidikan.
Rakyat Indonesia sangat berharap kepada pemerintah agar memperluas peluang dunia usaha bagi kaum laki-laki agar tidak ada lagi kaum wanita terutama para ibu yang harus bekerja di luar rumah untuk membantu suami, karena sejatinya seorang ibu tugas utamanya adalah memberikan kekuatan dari dalam untuk setiap anggota keluarganya guna menghadapi setiap perubahan yang terjadi.
Kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan negara kita jika para wanitanya berbondong-bondong menjadi TKI untuk mengais rezeki di negara orang karena sempitnya peluang kerja bagi suami-suami mereka di negaranya sendiri, atau jangan biarkan para ibu menjadi buruh di pabrik dimana ketika mereka pulang tak ada lagi sisa tenaga untuk mendidik dan mengajarkan anak-anak mereka di rumah.
Begitu juga dengan para guru atau pendidik yang tentunya sudah bersiap diri untuk senantiasa berinovasi dengan kegiatan pembelajaran yang ada di sekolah, jangan sampai dengan adanya MEA bangsa kita lebih tertarik dengan pendidikan dari negara lain yang belum tentu sesuai dengan karakteristik bangsa kita.