Citizen Journalism

Perlu Rekonstruksi Sejarah Indonesia

"Bangsa yang hebat adalah bangsa yang mengenal sejarah bangsanya."

Baltyra
Ilustrasi. Presiden Soekarno dan ajudan. 

WARTA KOTA, PALMERAH - "Bangsa yang hebat adalah bangsa yang mengenal sejarah bangsanya."

Kutipan di atas adalah kata-kata yang terlontar dari founding father kita, Soekarno.

Pemahaman terhadap sejarah bangsa adalah sebuah keharusan.

Dalam beberapa hal, pengetahuan sebuah kelompok masyarakat atau penduduk suatu negara mengenai sejarah dan kebudayaan bangsanya sendiri bisa menjadi indikator tinggi-rendahnya kualitas pendidikan suatu bangsa.

Dalam konteks Indonesia, tradisi mengenai penulisan sejarah sendiri sudah dikenal sejak lama sebelum kemerdekaan, yang berwujud berbagai naskah kuno yang tersebar di berbagai pelosok wilayah.

Namun karena sikap teledor bangsa ini, kebanyakan koleksi berharga tersebut justru tersimpan rapih di balik kaca perpustakaan dan museum negara lain.

Padahal Baroroh Baried dalam acara seminar “filologi dan sejarah” di Yogyakarta tahun 1973, lewat tulisannya, menegaskan bahwa sejarah bangsa dapat ditulis berdasarkan keterangan-keterangan dan pengetahuan dari karya tulisan peninggalan nenek moyang.

Kondisi ini berimbas pada minimnya pengetahuan mengenai sejarah bangsa ini di masa lalu.

Jika dikorelasikan dengan historiografi, sebagai sebuah cabang ilmu yang befokus pada sejarah penulisan sejarah, timbul sebuah pertanyaan yang menarik, apakah bisa sejarah Indonesia ditulis ulang ?

Anggap saja pertanyaan ini muncul karena memang faktanya, selain rendahnya tingkat pengetahuan rata-rata masyarakat Indonesia mengenai kehidupan masa lalu yang disebabkan faktor terbatasnya akses terhadap naskah. seperti yang disebutkan di atas beberapa buku sejarah, pasca kemerdekaan telah ditulis dengan memihak kepentingan tertentu yang bersifat subyektif.

Bila sejarah Indonesia harus ditulis ulang maka yang menjadi rujukan adalah tetap dokumen resmi milik dunia pemerintahan atau para pemegang pengaruh dan kekuasaan, tetapi dengan pandangan bahwa penulisan sejarah harus ditulis berdasarkan sudut padang kaum kelas bawah, kebalikan dari sejarah konvensional.

Kemudian penulisan sejarah harus diusahakan se-objektif mungkin, walaupun memang hampir tidak mungkin untuk menghilangkan subjektivitas seorang sejarawan.

Upaya untuk menginterpretasi masa lalu yang rumit ini pastinya akan menyulitkan jika hanya mengandalkan ilmu sejarah semata.

Untuk itu memerlukan bantuan dari pihak kedua, yang berupa cabang ilmu lain seperti filologi, arkeologi, dan sosiologi.

Dalam konteks ini, biasa disebut dengan pendekatan multidimensional untuk menulis ulang sejarah Indonesia.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved